Terkadang, aku suka mengamati dirimu dan diriku sendiri melalui sudut pandang yang lain.
Karena kita ini lucu.
Kau mengetik namaku pada kolom 'search' dan begitu pula yang kulakukan di sini. Mengamati setiap kata yang kautuliskan. Memaknainya dalam diam seorang diri.
Atau ketika bel telah berbunyi. Dosen telah tiba dan pintu kelas pun tertutup.
Ada harap terselip ketika suara ketukan pintu terdengar. Berharap keterlambatan itu masih menjadi milikmu. Menunggui kehadiranmu--padahal jika ada kau pun aku tak akan melakukan apa-apa.
Kita ini lucu. Kita adalah kata yang masih terbata.
Serupa bayi yang bersusah payah mengeja kata, meski memahami makna. Kita hanya cenderung lebih memilih diam daripada terbata. Ya, kita diam.
Biarlah terbata, karena kata-kata itu adalah kita.
Selasa, 18 Maret 2014
Jumat, 14 Maret 2014
Akhir(-nya)
Bukan akhir, tetapi akhir(-nya).
Apa yang kaubaca? Di sini hanya akan kautemukan aksara yang terhampar bisu.
Ya, aksara ini tak bisa bicara. Mereka hanya bisa dimaknai dengan hati.
Mampukah kau memaknainya?
Dan hal yang paling kutakuti pun terjadi.
Akhir(-nya) kaudapati hamparan aksaraku dan membawanya masuk ke dalam hatimu.
Kamis, 16 Januari 2014
Akhir
Seharusnya aku menyadari ini sejak awal, bahwa aku tidak akan pernah terlihat olehmu.
Ada yang di sini, setia mendengarkan ceritamu, tertawa pada kekonyolanmu, sekaligus terluka karena cerita itu sendiri.
Ada. Ada yang menguatkan hati di sini ketika sedang berkata, "Ditunggu undangannya, ya."
Karena aku yang terlambat menyadari semua ini. Terus menanam harapan itu di ladang impian. Berharap suatu saat akan tumbuh menjadi akhir cerita bahagia.
Ya, seharusnya aku menyadari ini dari awal.
Akhir bahagia itu, bukan milik kita.
Senin, 25 November 2013
Seperti Ini
Aku membenci keadaan seperti ini.
Kamu yang datang terlalu tiba-tiba. Menyapaku yang saat ini jelas sedang menikmati kesendirian.
"Sendiri?" tanyamu.
Bodoh. Kau pikir dengan siapa lagi?
"Iya," jawabku sekenanya. Menyembunyikan keterkejutanku karena mendapat sapaan darimu.
Lalu kita pun saling berlalu, begitu saja.
Atau yang seperti ini.
Aku berada di hadapanmu. Melihat tawamu di tengah keramaian. Tanpa sengaja, matamu menangkapku. Aku beralih pandang, seolah tak ada apa-apa, sewajar-wajar saja.
Atau ketika kau bercerita tentang harimu. Kesedihanmu, kegembiraanmu. Aku mendengarkan. Begitu hingga malam berputar menjelang pagi. Hanya untuk mendengarkanmu; menunggumu.
Aku benci keadaan-keadaan ini. Seperti saat ini, ketika sedang menulis ini.
Kau, di hadapanku. Sedang mengerjakan tugas bersama seorang temanmu. Dan aku terdiam kikuk sambil mengetik tulisan ini melalui netbook-ku.
Kamu yang datang terlalu tiba-tiba. Menyapaku yang saat ini jelas sedang menikmati kesendirian.
"Sendiri?" tanyamu.
Bodoh. Kau pikir dengan siapa lagi?
"Iya," jawabku sekenanya. Menyembunyikan keterkejutanku karena mendapat sapaan darimu.
Lalu kita pun saling berlalu, begitu saja.
Atau yang seperti ini.
Aku berada di hadapanmu. Melihat tawamu di tengah keramaian. Tanpa sengaja, matamu menangkapku. Aku beralih pandang, seolah tak ada apa-apa, sewajar-wajar saja.
Atau ketika kau bercerita tentang harimu. Kesedihanmu, kegembiraanmu. Aku mendengarkan. Begitu hingga malam berputar menjelang pagi. Hanya untuk mendengarkanmu; menunggumu.
Aku benci keadaan-keadaan ini. Seperti saat ini, ketika sedang menulis ini.
Kau, di hadapanku. Sedang mengerjakan tugas bersama seorang temanmu. Dan aku terdiam kikuk sambil mengetik tulisan ini melalui netbook-ku.
Depok, November 2013
Minggu, 24 November 2013
Jarak Aman
Mungkin kau tidak peduli ketika jumlah absenmu melebihi jatah maksimal yang ditentukan dalam suatu mata kuliah.
Mungkin kau tidak peduli ketika kesibukanmu membuat lupa pada jadwal makanmu.
Mungkin kau tidak peduli ketika sebuah kecelakaan menimpamu dan kau masih mampu terkekeh kesakita di hadapan teman-teman kita.
Mungkin kau tidak peduli ketika kau pulang larut malam bermandikan hujan yang dinginnya menembus kulit.
Mungkin, kau tidak akan pernah peduli pada dirimu sendiri.
Namun, dari jarak aman ini, aku memerhatikan semua itu. Peduli? Entah apa itu namanya. Toh, tidak ada yang dapat kulakukan selain mengetahui ini-itu-ini-itu tentangmu. Sekadar tahu, tak sampai batas peduli.
Karena kepedulian itu hanya milik mereka yang tidak berada pada jarak aman sepertiku ini. Karena kepedulian itu hanya milik keluarga dan sahabat-sahabatmu.
Aku?
Tidak, atau belum berhak peduli kepadamu.
Mungkin kau tidak peduli ketika kesibukanmu membuat lupa pada jadwal makanmu.
Mungkin kau tidak peduli ketika sebuah kecelakaan menimpamu dan kau masih mampu terkekeh kesakita di hadapan teman-teman kita.
Mungkin kau tidak peduli ketika kau pulang larut malam bermandikan hujan yang dinginnya menembus kulit.
Mungkin, kau tidak akan pernah peduli pada dirimu sendiri.
Namun, dari jarak aman ini, aku memerhatikan semua itu. Peduli? Entah apa itu namanya. Toh, tidak ada yang dapat kulakukan selain mengetahui ini-itu-ini-itu tentangmu. Sekadar tahu, tak sampai batas peduli.
Karena kepedulian itu hanya milik mereka yang tidak berada pada jarak aman sepertiku ini. Karena kepedulian itu hanya milik keluarga dan sahabat-sahabatmu.
Aku?
Tidak, atau belum berhak peduli kepadamu.
Sabtu, 02 November 2013
November Kini
Selamat datang, November.
Bulan yang pada tahun lalu menyimpan begitu banyak cerita. Entah itu cerita berupa kebahagiaan maupun kesedihan. Tentang perpisahan dan awal yang baru. Begitu banyak.; terlalu banyak.
November kini, kusematkan cukup banyak harapan padanya.
Bukan lagi pengharapan yang sama, bukan lagi objek yang sama.
Mari mewarnai November kini.
Bulan yang pada tahun lalu menyimpan begitu banyak cerita. Entah itu cerita berupa kebahagiaan maupun kesedihan. Tentang perpisahan dan awal yang baru. Begitu banyak.; terlalu banyak.
November kini, kusematkan cukup banyak harapan padanya.
Bukan lagi pengharapan yang sama, bukan lagi objek yang sama.
Mari mewarnai November kini.
Minggu, 29 September 2013
Mendengarkanmu
Mungkin ini salah satu tindakan fatalku.
Menulis kata-kata penuh ambiguitas dalam buku catatanmu. Hingga pada hari ini, kaupertanyakan makna kalimat-kalimat itu...
dan kusambut dengan keheningan. Aku sungguh tak tahu hendak menjawab apa dan bagaimana. Aku hanya menuliskan apa yang kurasa. Aku yang mendengarkanmu, pun ingin kaudengarkan. Ingin sekali... tetapi aku tak bisa sebebas itu.
Ketika kau ceritakan tentang sosok itu, seseorang yang (mungkin) kaucintai, aku mendengarkan. Namun, sungguh aku tak mampu bercerita tentang seseorang yang mengganggu perasaanku belakangan ini. Aku tidak bisa menceritakannya kepadamu, seperti kaubercerita kepadaku.
Karena...
Bagaimana mungkin aku bercerita tentang dirimu kepada dirimu sendiri? Bagaimana mungkin aku bercerita kekecewaan dan kepiluan yang kurasakan karenamu, kepada dirimu sendiri?
Kau tidak akan mengerti semua ini.
Biarlah, hanya aku satu-satunya di sini yang mengerti, tanpa harus kaumengerti.
Tetaplah bercerita di sini.
Janjiku satu: mendengarkanmu.
Menulis kata-kata penuh ambiguitas dalam buku catatanmu. Hingga pada hari ini, kaupertanyakan makna kalimat-kalimat itu...
dan kusambut dengan keheningan. Aku sungguh tak tahu hendak menjawab apa dan bagaimana. Aku hanya menuliskan apa yang kurasa. Aku yang mendengarkanmu, pun ingin kaudengarkan. Ingin sekali... tetapi aku tak bisa sebebas itu.
Ketika kau ceritakan tentang sosok itu, seseorang yang (mungkin) kaucintai, aku mendengarkan. Namun, sungguh aku tak mampu bercerita tentang seseorang yang mengganggu perasaanku belakangan ini. Aku tidak bisa menceritakannya kepadamu, seperti kaubercerita kepadaku.
Karena...
Bagaimana mungkin aku bercerita tentang dirimu kepada dirimu sendiri? Bagaimana mungkin aku bercerita kekecewaan dan kepiluan yang kurasakan karenamu, kepada dirimu sendiri?
Kau tidak akan mengerti semua ini.
Biarlah, hanya aku satu-satunya di sini yang mengerti, tanpa harus kaumengerti.
Tetaplah bercerita di sini.
Janjiku satu: mendengarkanmu.
Senin, 26 Agustus 2013
Kedatanganmu
Panas menyengat. Aku berdiri di hadapan para mahasiswa baru yang hendak melakukan ishoma. Di depan musala, beberapa langkah sebelum para mahasiswa itu benar-benar tiba. Entah mengapa, naluriku ingin menengokkan kepala ke arah musala. Kudapati dirimu di sana, tengah terburu-buru memakai sepatu. Aku kembali ada posisi kepalaku seperti semula. Mengatur napas, mengatur debar.
Kedatanganmu, begitu spontan. Padahal, kupikir kau masih dalam perjalanan dari pulau seberang. Kupikir kau tak akan hadir di sini. Kupikir...
Hingga para mahasiswa baru itu berbaris tepat di hadapanku, kau melewati sisi kananku. Berlalu terburu-buru. Kupikir karena kau pun hendak mengisi mentoring. Di situ, kutatap punggungmu yang menjauh. Kedatangan dan kepergianmu. Begitu saja. Tanpa ada yang terucap.
Tidak ada yang perlu dimengerti di sini. Cukuplah aku yang merasakannya. Allah sebaik-baik pemegang janji. Janji tentang "seorang wanita baik adalah untuk laki-laki yang baik".
Kedatanganmu, begitu spontan. Padahal, kupikir kau masih dalam perjalanan dari pulau seberang. Kupikir kau tak akan hadir di sini. Kupikir...
Hingga para mahasiswa baru itu berbaris tepat di hadapanku, kau melewati sisi kananku. Berlalu terburu-buru. Kupikir karena kau pun hendak mengisi mentoring. Di situ, kutatap punggungmu yang menjauh. Kedatangan dan kepergianmu. Begitu saja. Tanpa ada yang terucap.
Tidak ada yang perlu dimengerti di sini. Cukuplah aku yang merasakannya. Allah sebaik-baik pemegang janji. Janji tentang "seorang wanita baik adalah untuk laki-laki yang baik".
Langganan:
Postingan (Atom)