Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2013

Dulu, Aku Pernah Punya Hati

bau hujan menusuk ke dalam rongga hidungmu. kau sebut itu cinta. aku tertawa. bagaimana cara kerja sebuah bau menuntunmu pada cinta?
hening sesaat, senyummu mengembang.
"ketika bau hujan tercipta karena orang yang kau cintai pernah berada di sampingmu saat itu," katamu mengenang.
aku terdiam. setiap katamu menghipnotis sel-sel dalam tubuhku. matilah segala rasa ini!
nyatanya, aku tetap ada, duduk di hadapanmu. tersenyum, mendengarkanmu.
aku tahu, ada dua hati di sini. namun, yang kurasakan hanya satu hati.
hati milikmu menempati hatiku.
lantas, di mana hatiku?
oh, rupanya tak ada. aku sudah tak punya hati.

dulu, aku pernah punya hati.
yang kemudian kau sakiti, lukai, dan mati.
hingga aku tak lagi punya hati.
akan tetapi, kau beri aku hati.
ya, sementara.
karena sebentar lagi akan kau beri hati ini pada wanita itu, lagi.
hingga aku tak lagi punya hati.
yang kemudian kau sakiti, lukai, dan mati.
dulu, aku pernah punya hati.

Sabtu, 01 Juni 2013

June is A Poem

Juni pernah menciptakan cerita
Juni pernah menabur cinta
Juni pernah memberi asa
Juni pernah memercikkan rasa

Kadang aku bertanya,
Juni yang menciptakan cerita;
Atau kita yang menciptakan cerita Juni?

Mengantung dalam benakku,
Juni yang menabur cinta;
Atau kita yang membeberkan cinta pada Juni?

Tanda tanya belum usai,
Juni yang memberi asa;
Atau kita yang berekspektasi terlampau tinggi pada Juni?

Pertanyaan terakhirku,
Juni yang memercikkan rasa;
Atau kita yang berusaha menutup luka pada Juni?

Agaknya saya salah dalam menggunakan kata 'kita' dalam hamparan aksara ini.
Mungkin, pernah ada 'kita' pada suatu hari di bulan Juni.
Yang tidak lagi ada.
Tidak akan lagi ada.

Juni tak selalu tentang luka.
Juni tak selalu tentang suka.
Juni adalah puisi.
Puisi adalah juni.

Sabtu, 27 April 2013

Setetes Harapan

Setetes harapan dari langit
Mencoba membasahi makna pada duka
Karena meratap tiada berarti
Bergegaslah, hadapi, dan bangkit!

Bukan perkara mudah
Ketika tak ada seorang pun di sisimu
Menghapus peluh dalam perjalanan ini
Nyatanya, kau memang sendiri dalam sunyi

Pun aku di sini
Meski selalu berharap untuk berada di sisimu
Meski takdir belum berpihak
Kuterima, aku tetap berpijak

Karena diamku memahami semesta
Tuhan ciptakan jiwa dan raga
Apabila raga tak dapat mengikuti bersama
Jiwamu ada; setia bersamanya

Hingga tetes-tetes harapan membanjiri pelupuk matamu
Yang jatuh seiring dengan doa yang kau rapalkan
Doa tentang harapanmu; harapan dua manusia
Semoga surga adalah titik pertemuan abadi kita

Jumat, 26 April 2013

Hanya Seseorang

Sejak awal, harusnya kupahami.
Terlalu banyak dramatisasi di sini. Semua tawa, kebersamaan, bahkan diskusi hangat.
Kau, hanya seseorang.
Seseorang yang mengajariku untuk membuka hati dari luka lama yang sempat menghinggapi. Seseorang yang  memiliki semangat luar biasa untuk meraih mimpi. Seseorang yang belum lama kukenal, namun telah membuatku berani banyak bermimpi tentang "kita".

Sudah. Enyah.

Sehabis membaca tulisanmu tentang seseorang-yang-kau-sebut-calon itu, aku pun semakin tahu diri. Ya, mungkin selama ini hanya aku yang merasa berarti. Hanya aku sepihak saja, tanpa kauketahui.
Semoga seseorang-yang-kau-sebut-calon di kota yang jauh di sana itu... memiliki takdir yang baik.
Sedangkan aku di sini, masih dan akan selalu percaya: "Allah has already writen the names of your spouses for you.What you need to work on is your relationship with Allah. He will send him to you when you're ready. It's only a matter of time."

Semoga Allah mengampuniku karena terlalu sering menyebut namamu dalam doa-doaku.


Selasa, 16 April 2013

Halal Pada Waktunya


Tidak perlu kutuliskan, seharusnya.

Apa yang harus kubanggakan? Ketika mata kita tak sengaja bertemu, aku menunduk malu, dan kau pun berlalu. Tidak ada, sungguh tidak ada yang patut kubanggakan. Pandangan itu tidaklah halal bagi kita berdua. Setan mungkin telah menembus dinding pertahanan hati kita...

Tidak boleh. Tidak akan kubiarkan seperti ini.
Kedua mataku ini, kelak hanya akan kupergunakan untuk memandang sesuatu yang hanya halal bagiku. Entah itu kamu, dia, atau siapa pun nanti. Aku masih belum tahu. Wallahu’alam.

Mengatasnamakan kekaguman—aku masih enggan menggunakan kata cinta—saja tidak mampu memberi label “halal” pada tindakan kita ini. Tidak semudah dan tidak seindah ini. Percayalah.
Jangan mengambil langkah terlalu cepat, karena mungkin saja apa yang kita inginkan belum tentu menjadi apa yang kita butuhkan. Rapatkan dinding pertahanan hati, jaga rasa, batasi jarak, dan utamakan Allah. 

Tetap percaya pada firman Allah, “Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik.”
Hanya terkadang kita yang tak mau menunggu. Ternodai nafsu yang semu. Dengan beraninya mendeklarasikan kata “cinta” pada pasangan yang jelas bukan muhrim dan belum tentu menjadi jodohnya. 

Ya, manusia terlena dalam perjalanan menunggu. Kita tidak tahu, bahwa mungkin saja Allah telah menyiapkan yang lebih baik untuk kita. Meski tanpa diminta, Dia mengerti. Dia pahami isi hati semua hamba-Nya.

Tetap menunduk. Pandangan itu pasti akan halal pada waktunya.

Selasa, 09 April 2013

Nothing

"Jangan tumbuh," kataku pada perasaan yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Sayangnya, ucapanku tak berpengaruh apa pun. Perasaan itu tetap tumbuh. Mengikat kuat meski aku tak sepakat. Terlambat. Aku pun terjerat.

"Jangan cemburu," kataku pada gemuruh yang menyambar dadaku ketika melihat kau akrab dengan perempuan lain.
Tak ada yang berubah. Badai berkecamuk di dalam sini. Murka hendak pecah menjadi kata-kata. Pada akhirnya, semua terjawab dengan diam dan airmata.

"Jangan bertahan," kataku pada hatiku yang rapuh.
"Jangan diam," kata seonggok luka di dalam sana.

Aku bergerak. Entah mendekati atau menjauhi. Yang kuketahui saat itu hanyalah mataku menangkap senyummu yang berpendar sesaat, kemudian hilang. Mati. Lenyap.

Tak ada siapa pun. Tak ada yang terluka.
Tinggallah aku bersama setitik kegelapan bernama sepi.
Tak ada.
Segala ilusi perlahan merangkak pergi.
Sunyi; sepi.
Kembali sendiri.

Jumat, 29 Maret 2013

Batas Belum Terpangkas

Memastikan diri untuk tetap tenang ketika jantung berdetak lebih cepat dari biasanya merupakan hal yang tidak mudah. Seketika itu pula, aku merasa payah dan kalah.
Terpisah jarak beberapa langkah. Senyum rasanya ingin segera merekah. Namun tertahan oleh rasa malu yang membuncah.
Kau pun melewatiku. Begitu saja; begitu cepat. Aku tak sempat terpana.
Ini tidak mudah. Bukan perkara rasa yang takut tak terbalas, melainkan sebuah konsistensi menjaga batas.
Mungkin, aku tak peduli jika kau pun merasakan hal yang sama seperti yang kualami. Sungguh tak peduli. Bukankah kita harus saling menjaga dan melindungi?
Karena aku dan kau tahu. Belum saatnya rasa ini diberi pupuk agar tumbuh subur. Belum saatnya. Nanti, akan ada masanya sendiri. Ketika segala batas yang kita jaga saat ini akan terpangkas oleh kata 'halal'.
Jadi, seperti ini akan lebih baik, kan? Aku menjaga serta terjaga, demikian pula denganmu.
Semesta pun tahu, kita saling melindungi rasa. Yang mungkin akan terungkap pada suatu masa.
Nanti.

Selasa, 19 Maret 2013

You Will Never Know

Letakmu di sana. Di depan layar monitor laptopmu. Menatap dengan serius seakan terlupa dengan dunia nyata yang sedang kaudiami.
Letakku di sini. Di sudut kelas kita. Menatapmu dengan malu meski tanpa ragu.
Lihatlah.
Kita akan selalu seperti ini. Kamu pada duniamu; aku pada duniaku. Tanpa sapa yang merambat, pun senyuman hangat. Mematung dan mengamati dalam diam. Inilah caraku mengenalmu yang tak perlu kautahu.
...dan kautak tahu, ketika matamu beralih dari layar monitormu dan berhenti di sudut kelas; aku tetap tak bergeming. Seulas garis lengkung terlukis di bibirmu.
Kautak tahu.
Karena perlahan aku menundukkan pandanganku. Berharap senyuman itu tetap pada tempatnya dan kelak akan kupandangi sesuka hati ketika Allah telah menghalalkan kita.
Kautak tahu.
Seketika aku meleleh.
Kau tak tahu.
Tak pernah tahu; tak perlu tahu.

Minggu, 17 Maret 2013

Episode Lain

Ada saatnya, yang tidak dapat membuatmu bertahan itu harus benar-benar kaulepas. Menghapus ingatan memang tak semudah mengedipkan mata. Namun, bertahan atas nama apa lagi? Jika segala yang membuatmu pergi telah membentang di depan matamu...
Maka, lepaskanlah. Pergilah.
Bahagiamu bukan di sini. Ada potongan episode lain yang menunggu di depan sana. Menanti untuk kaugapai...

"Tersenyumlah, Allah mencintaimu lebih dari yang kamu perlu..." - Galaksi Kinanthi

Minggu, 10 Maret 2013

Bingkai Ilusi

Menyapu pandang
Malamku mendadak lenggang
Tiada jejak terpancang
Melukiskan sesosok bayang

Pada sudut hati yang rapuh
Seonggok kenangan berserakan tanpa arti
Ruang hati yang sesak bertambah pilu
Namun tak sedikit pun meninggalkan ragu

Melangkah meski tanpa arah
Berlari, berputar, dan mengambil jalan lain
Membersihkan diri dan hati
Menghilang, berharap tenang...

dan tetap nyata.

Minggu, 24 Februari 2013

Kupu-kupu


Bagaimana caranya kau menghadirkan kupu-kupu di dalam dadaku ini? Kupikir, dadaku hanya akan tergelitik oleh kupu-kupu yang sama. Tidak akan terganti selamanya.

Bagaimana caranya kau menumbuhkan kembali sayap-sayap harapan kupu-kupu di dalam dadaku ini? Kupikir, sayap itu tidak akan pernah mengembang lagi. Terlanjur kaku terbujur kepompong yang tak kunjung berubah fase.

Bagaimana caranya kau memberi warna yang teramat indah pada kupu-kupu di dadaku ini? Memercikkan getar-getar tak terduga. Padahal, sebelumnya hanya abu-abu di sini. Tidak hitam, pun putih.

Bagaimana caranya kau menyuburkan kembali bunga-bunga yang telah layu di dalam dadaku? Padahal, aku tidak pernah memberinya penyubur apa pun. Bunga-bunga cantik merekah nyata di dalam sini. Membuat para kupu-kupu betah berlama-lama tinggal di sini.

Meskipun masih berwujud harapan dalam diam, kupu-kupu itu ada. Mereka hidup di dalam sini. Aku merasa bahagia sejenak, namun dapat juga merasa ketakutan jika membayangkan kupu-kupu itu mati akibat bunga yang tetiba layu.
Haruskah aku memupuknya setiap hari?
Ah, bukankah pupuk saja tidak mampu menyuburkan bunga-bunga ini? Dibutuhkan matahari, air, dan suhu yang tepat untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan bunga-bunga ini.
Dan...
Maukah kau membantuku melengkapi semua itu...
...nanti?


Depok, 23 Februari 2013

Selasa, 19 Februari 2013

Bait Waktu

pukul lima lewat tiga puluh delapan.
selamat pagi, jangan lupa sarapan.

pukul lima lewat tiga puluh sembilan.
semoga pada hari ini tidak ada kekesalan.

pukul lima lewat empat puluh.
sejujurnya, rindu ini selalu utuh.

pukul lima lewat empat puluh satu.
apa kau merindu seperti itu?

pukul lima lewat empat puluh dua.
rasanya, rindu ini milikku seorang saja.

pukul lima lewat empat puluh tiga.
perasaan ini mengguncang jiwa raga.

pukul lima lewat empat puluh lima.
aku pun sadar, tak boleh seperti ini terlalu lama.

pukul lima lewat empat puluh enam.
masih banyak mimpi yang harus kugenggam.

pukul empat lewat empat puluh tujuh.
maka, izinkan takdir membuat kita sementara menjauh.

pukul empat lewat empat puluh delapan.
mungkin saja, kita menyatu kembali di masa depan.

pukul empat lewat empat puluh sembilan.
semoga bukan sekadar imajinasi dan khayalan.

pukul empat lewat lima puluh.
hati ini pasti tahu ke mana jalan pulang; meski terasa jauh.

pukul empat lewat lima puluh satu.
jika Allah berkehendak, kita pasti menyatu.


Pagi hari yang dingin,
Jakarta, 2013

Minggu, 17 Februari 2013

Past, Present, and Future


Pagi ini, rasanya terlalu tabu jika aku sudah menuliskan sesuatu atau pun segala hal tentangmu. Kamu, yang tinggal di masa laluku, memang sangat menggoda untuk kusinggahi berlama-lama. Padahal, rasanya tiada guna. Justru membuat luka semakin menganga. Namun, apa daya? Hati tak kuasa berpaling. Ternyata segalanya masih terasa sama, meski tak utuh lagi.

Keputusan di masa lampau yang pernah kita sepakati secara bersama, mematikan indra perasa di hati ini. Bukannya kehilangan perasaan, namun memang tiada rasa yang ‘lebih’ daripada ketika mengenang kebersamaan aku dan kamu; kebersamaan kita.

Bodoh. Mengungkit masa lalu yang tidak mungkin terjadi lagi. Untuk apa? Ini adalah kebiasaan baru yang menjadikan candu. Memutar lagu-lagu yang dulu pernah memberi warna-warni romansa kita. Mengunjungi tempat-tempat yang menjadi saksi bisu kedekatan kita. Mematung di depan layar monitor untuk memantau update-an darimu di situs jejaring sosial.

Memang tak berarti lagi. Keputusan tetaplah keputusan. Hidup terus berjalan—dengan atau tanpamu di sisiku. Walaupun terkadang, takdir masih saja mempermainkan kita melalui pertemuan singkat tak terencana. Menggoyahkan dinding pertahanan yang selama ini dengan susah payah kubangun di sekeliling hatiku.

Tidak apa-apa. Aku percaya, suatu saat nanti kita juga akan saling melupakan. Jika sudah menemukan pasangan hidup masing-masing. (padahal, masih berharap bahwa kamu adalah pasangan hidup di masa depan).



“Di angkasa terlukislah kisah kita
Dua manusia yang berputar demi cinta
Mungkin cuma aku dan kamu
Yang terperdaya bekas badai ini
Mungkin cuma aku dan kamu
Yang percaya ini semua ‘kan jadi nyata...
Meski jalan ini kadang bertambah berat
Sudikah kau tunggu?
Relakah kau melepasku?”

Sabtu, 16 Februari 2013

...


Reaching out for no man's land
To take a breath and take a chance
I'd walk a thousand nights to change the world
Where to go? When to start?
Who to trust? What to say?
Found them all, just need someone to share

It's now in the dusk every day to carry on
Ain't so strong, I ain't so strong to go
Living in the past is not the way to live
I wish you could hear me say that I miss you

Why were we there back to back?
Why were we there face to face?
I must be the light when you're in the dark
If you lose me somewhere, and your tears are in the air
I will ring a bell until you feel me by your side

Looking up into the sky, looking for the reason
Why I'm here, and why you can't be here
Who's to hate? Who's to blame?
Who's to hurt? Who's to love?
Who just asked 'Why we can't we be the same?'

Try to believe walking down the lonesome road
Ain't so far, I ain't so far from you
Staying the way you are means solitude
I wish you were here and shook off my fear

Why were we there back to back?
Why were we there face to face?
I must be the light when you're in the dark
If I lose you somewhere, and I'm still hanging in there
I will ring a bell until you feel me by your side

What has been in the mix too long?
There's the peace when you're at war
Heads or tails, You and I
Light and dark, Ups and downs
What has been in the mere goal? What's there to divide us?
If you're hurt, cry and say 'can't you see your my other half?'

Why were we there back to back?
Why were we there face to face?
I must be the light when you're in the dark
If you lose me somewhere, and your tears are in the air
I will ring a bell until you feel me by your side


(source: http://www.lyricsmode.com/lyrics/b/bonnie_pink/)

Sastra Neptunus



Bahasamu.
Yang terkadang tak mampu kumengerti, tak terjangkau oleh imajinasiku.
Bahasamu.
Yang mengandung isyarat; tentang bertahan atau pun melepas.
Bahasamu.
Yang membuat bunga-bunga di hatiku merekah sempurna.
Bahasamu.
Yang berasal dari planet neptunus, penuh misteri.
Bahasamu.
Yang meski tak kupahami, namun tetap kupelajari karena cinta.




sas·tra n 1 bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yg dipakai dl kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); 2 kesusastraan; 3 kitab suci Hindu; kitab ilmu pengetahuan; 4 kitab; pustaka; primbon (berisi ramalan, hitungan, dsb); 5 tulisan; huruf.

Jumat, 15 Februari 2013

Boleh Kuminta Kembali?



Aku menaruh hati.
Kamu mengambilnya, membawanya ke mana pun kamu pergi. Seakan lupa bahwa ragaku masih di sini. Tak pernah terbawa. Perlahan, aku mulai menyadari bahwa aku adalah raga yang terabaikan.

Yang selalu kamu bawa itu adalah hati milikku. Boleh aku memintanya kembali? Agar aku dapat menata ulang hatiku. Mengobati luka-luka yang tergores di sana.

Yang selalu kamu bawa itu adalah hati milikku. Meski aku terabaikan olehmu. Meski tak ada kata sapa di antara kita. Meski semua telah berlalu dengan sendu.

Untuk terakhir kalinya, bolehkah kuminta hatiku kembali?
Aku ingin menaruh hati lagi. Walaupun terjatuh lagi. Hatiku terbawa lagi. Berdebar lagi, bahkan terabaikan lagi.
Namun bukan lagi denganmu
...
boleh?

Kamis, 14 Februari 2013

Mati Berhenti


Berlari.
Menghindar.
Menjauh.
Pergi.
Melayang.
Sepi.
Mati.
Berhenti.

Terbang.
Singgah.
Merona.
Berdebar.
Diam.
Lenyap.
Mati.
Berhenti.

Bergerak.
Mundur.
Sakit.
Singgah.
Pergi.
Doa.
Bayangan.
Mati.
Berhenti.

Senin, 11 Februari 2013

Moving



Senyum itu berpindah kepemilikan, entah bagaimana prosesnya.
Rindu itu berpindah rumah, entah bagaimana perpindahannya.
Kekaguman itu merayap ke arah lain, entah bagaimana pergerakannya.

Diam-diam bersyukur, berharap luka cepat terkubur. Menyadari bahwa kamu tidak lagi mendominasi ruang di sudut hati ini. Berganti. Menepi. Menanti. Sepi.
Biarlah seperti ini.
Jengah bermain hati. Biarkan hati bermain sendiri dalam imajinasi yang tak dapat dipahami.
Aku tetap di sini.
Mengamati siluet senja yang perlahan pergi digantikan oleh cahaya bulan.

Lebih indah; menenggelamkan gundah.

Jumat, 08 Februari 2013

Perkara Waktu Disertai Rindu

Ada keganjilan yang nyata ketika aku menatap senyum yang terpampang pada sebuah foto di layar monitorku. Senyum itu, senyum yang sempat memberi rasa nyaman saat perasaanku kacau balau. Dulu.
Yang seharusnya berlalu memang harus dilalui. Hanya terkadang, rindu yang menggelayut pada lubuk hati terdalam memang tidak dapat disembunyikan. Itu saja.

Aku tidak melupakanmu, tidak akan pernah. Kamu akan tetap menempati ruang kecil di dalam hatiku dan kukunci rapat-rapat. Sekadar pengingat bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Semanis apa pun janji setia yang pernah terucap, takdir tetap tidak dapat ditoleransi.

"Berhentilah... Tulang rusuk tidak akan pernah tertukar. Ini hanya perkara waktu saja. Kebahagiaan dunia dan akhirat tercipta bagi mereka yang selalu bersabar."

Kamis, 31 Januari 2013

Will We Meet Again?

"When you missing someone and there's nothing you can do with it..."

Saya tidak sepatutnya seperti ini. Namun, semua masih begitu jelas dalam ingatan saya. Keadaan ini diperparah dengan kehadiran kamu di dalam mimpi saya. Kenapa?
Kenapa kamu hadir lagi?
Saya benar-benar tidak bisa melakukan apa pun selain menolak perasaan itu. Saya tahu saya harus menjauh.

"Jika suatu saat kita bertemu lagi..."

Entah. Mungkin itu hanya untaian kalimat dari seseorang yang terlalu berekspetasi pada masa depan. Atau untuk orang-orang yang percaya akan adanya keajaiban. Saya tidak tahu. Yang jelas, Allah pasti telah menyiapkan jalan yang terbaik untuk kita. Pun persoalan pertemuan kita di masa yang akan datang...

Allah works in His mysterious way...