Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

Setetes Harapan

Setetes harapan dari langit
Mencoba membasahi makna pada duka
Karena meratap tiada berarti
Bergegaslah, hadapi, dan bangkit!

Bukan perkara mudah
Ketika tak ada seorang pun di sisimu
Menghapus peluh dalam perjalanan ini
Nyatanya, kau memang sendiri dalam sunyi

Pun aku di sini
Meski selalu berharap untuk berada di sisimu
Meski takdir belum berpihak
Kuterima, aku tetap berpijak

Karena diamku memahami semesta
Tuhan ciptakan jiwa dan raga
Apabila raga tak dapat mengikuti bersama
Jiwamu ada; setia bersamanya

Hingga tetes-tetes harapan membanjiri pelupuk matamu
Yang jatuh seiring dengan doa yang kau rapalkan
Doa tentang harapanmu; harapan dua manusia
Semoga surga adalah titik pertemuan abadi kita

Minggu, 21 April 2013

Kata dan Kita

Membuka sejarah...
Tentang kita. Tentang persahabatan, mimpi, dan harapan.
Pertama kali mengenal kalian, tidak pernah saya mengira bahwa akan terjalin sejauh ini. Kupikir, sebatas persahabatan biasa semasa SMA. Sekadar kawan penawar duka dan pencipta tawa.

Hingga waktu bergulir lebih cepat daripada yang pernah kita duga. Waktu mencuri dan menghadirkan kebersamaan kita. Membuat hati kita masing-masing terisi oleh rasa bahagia.

Mengenal dan mengenang.
Hal terindah tentang persahabatan yang pernah kuketahui. Cerita masa SMA takkan pernah lekang oleh perputaran bumi maupun matahari. Mereka abadi; berasal dari hati.

Kini, kita bukan lagi remaja labil berseragam. Kita adalah kata-kata yang pernah kita ucapkan dulu.
Kata-kata tentang mimpi berkuliah, mimpi kesuksesan, mimpi berumahtangga...
Meski jarak memberi jeda pada pertemuan kita, semoga ikatan ini takkan pernah renggang.

Tetaplah berkata-kata tentang mimpi kita.
Karena kita saat ini adalah kata-kata yang kita ucapkan pada hari kemarin.

Jumat, 19 April 2013

When I Was Tired

Tujuan saya tertidur adalah untuk beristirahat dari aktifitas dunia. Lelah? Ya, tentu saja. Namun, ketika dalam tidur justru menghadirkan mimpi yang mengingatkan saya pada rutinitas kesibukan, ini sungguh melelahkan. Bagaimana mungkin? Baik di alam sadar maupun alam bawah sadar saya seperti terisi agenda.
Penat.

Saya selalu tahu bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Mungkin ada kalanya, kita memang harus menyadari bahwa melakukan hal yang sia-sia itu menyenangkan. Paling tidak, membantu meringankan beban pikiran untuk sesaat.

Karena ketika merasakan semua ini, saya tinggallah mengingat. Apa tujuan saya hidup? Mengapa saya ikut organisasi ini-itu?
Tidak ada lelah yang sia-sia bagi orang yang beriman. Setiap langkah yang kita niatkan hanya untuk Allah semata pasti akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Lelah dan sakit ini pun belumlah seberapa dibandingkan dengan perjuangan Rasulullah di zaman jahiliyah.

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad [47] : 7)

Saya percaya pada firman Allah tersebut, karena itulah yang sedang saya alami saat ini. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu melebihi kemampuan hamba-Nya.

Selasa, 16 April 2013

Halal Pada Waktunya


Tidak perlu kutuliskan, seharusnya.

Apa yang harus kubanggakan? Ketika mata kita tak sengaja bertemu, aku menunduk malu, dan kau pun berlalu. Tidak ada, sungguh tidak ada yang patut kubanggakan. Pandangan itu tidaklah halal bagi kita berdua. Setan mungkin telah menembus dinding pertahanan hati kita...

Tidak boleh. Tidak akan kubiarkan seperti ini.
Kedua mataku ini, kelak hanya akan kupergunakan untuk memandang sesuatu yang hanya halal bagiku. Entah itu kamu, dia, atau siapa pun nanti. Aku masih belum tahu. Wallahu’alam.

Mengatasnamakan kekaguman—aku masih enggan menggunakan kata cinta—saja tidak mampu memberi label “halal” pada tindakan kita ini. Tidak semudah dan tidak seindah ini. Percayalah.
Jangan mengambil langkah terlalu cepat, karena mungkin saja apa yang kita inginkan belum tentu menjadi apa yang kita butuhkan. Rapatkan dinding pertahanan hati, jaga rasa, batasi jarak, dan utamakan Allah. 

Tetap percaya pada firman Allah, “Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik.”
Hanya terkadang kita yang tak mau menunggu. Ternodai nafsu yang semu. Dengan beraninya mendeklarasikan kata “cinta” pada pasangan yang jelas bukan muhrim dan belum tentu menjadi jodohnya. 

Ya, manusia terlena dalam perjalanan menunggu. Kita tidak tahu, bahwa mungkin saja Allah telah menyiapkan yang lebih baik untuk kita. Meski tanpa diminta, Dia mengerti. Dia pahami isi hati semua hamba-Nya.

Tetap menunduk. Pandangan itu pasti akan halal pada waktunya.

Senin, 11 Februari 2013

Pantaskah?

Pertanyaan sederhana.
"Pantaskah?"
Ketika kita mengeluh tentang bobot tubuh yang tak kunjung menunjukkan penurunan, sedangkan makanan yang tersedia amat sangat mengundang untuk kita santap... Lantas, kita akan menyalahkan Tuhan yang membiarkan makanan-makanan tersebut tersedia.

"Damn! Kenapa banyak makanan? Gue kan lagi diet!"
"Sial. Sengaja banget kan, biar gue gak kurus-kurus..."
"Kayaknya emang gak diizinin kurus deh gue. Bodo deh. Makan lagiiii..."

Pantaskah?
Bukankah segala sesuatu yang telah dikaruniakan kepada kita adalah sebuah keberkahan? Mengapa harus mencaci, sedangkan di belahan dunia lain, bahkan di tepi jalan yang tak jauh dari rumah kita, terdapat mereka yang membutuhkan sesuap makanan. Bukan makanan untuk dinikmati, seperti yang dapat kita rasakan. Hanya makanan sekadar pengganjal perut; untuk bertahan hidup.


Pantaskah?
Ketika kita sedang berusaha menahan lapar agar tetap memiliki berat badan ideal, mereka justru sedang menahan lapar karena tidak adanya makanan yang tersedia. Rasanya, membanting tulang-tulang beserta daging tak berlemak itu pun tak cukup untuk mengisi kekosongan perut.


Ini bukan tentang keegoisan semata. Pun tentang hati yang telah mati. Terkikisnya rasa untuk berbagi.
Pantaskah?
Manusia yang diciptakan dari kasih sayang, mengapa justru tidak saling menyayangi sesama? Mengapa justru menyalahkan Tuhan dengan ketidakadilan berat badan?
Foto-foto di atas hanyalah potret sebagian kecil anak-anak miskin di seluruh belahan dunia. Semangat membara tak kenal padam. Demi sisa makanan yang tak habis kita santap karena ngeri badan kita melebar.

Semoga bukan hanya makanan kita yang tersisa di piring. Nurani pun diharapkan keberadaannya, meski berupa remahan kecil dari hati seorang manusia.

Rabu, 06 Februari 2013

Awake

I'm wide awake
Yeah, I was in the dark
I was falling hard
With an open heart
I'm wide awake
How did I read the stars so wrong?
I'm wide awake
And now it's clear to me
That everything you see
Ain't always what it seems
I'm wide awake
Yeah, I was dreaming for so long
(Katy Perry - Wide Awake)


Semua yang terluka pasti akan sembuh pada waktunya. Tidak perlu terburu-buru, karena proses penyembuhan yang efektif terkadang memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Yang perlu kamu yakini adalah, di setiap kamu merasa terjatuh dan sakit, sesuatu di masa depanmu pasti akan memberimu kesembuhan. Entah dalam bentuk kejutan rezeki, pekerjaan, maupun asmara.

Tidak ada manusia yang ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Ketika sesuatu yang kamu tunggu tak kunjung memberi kepastian dan hanya meninggalkan jejak kepedihan; tinggalkan. Sesuatu yang jauh lebih baik telah menunggumu di depan. Untuk apa menantikan sesuatu yang belum tentu datang di kehidupanmu? Hidup terlalu berharga untuk sekadar menangisi satu hal dan melupakan banyak hal lain yang akan memberi kehidupan sesungguhnya untukmu.

Bangunlah!
Ketika kamu merasa mimpi ini terlalu panjang dan melelahkan. Ketika kamu bangun, kamu akan menemukan  objek lain yang menenangkan hatimu. Meskipun ketika bangun, lukamu akan terasa lebih sakit berkali-kali lipat, tidak apa. Sebutlah itu sebagai proses. Bukankah ketika kamu sering merasakan sakit, itu justru membuatmu menjadi lebih kuat?

Toh pada akhirnya, setelah kamu terbangun dan melakukan aktifitas yang menyehatkan hati dan jiwamu, kamu akan membutuhkan istirahat. Tertidur lagi, bermimpi lagi. Bisa jadi, mimpimu akan lebih indah dari mimpi sebelumnya. Lalu, mengapa harus takut untuk terbangun sebelum bermimpi lagi?