Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 April 2013

Kata dan Kita

Membuka sejarah...
Tentang kita. Tentang persahabatan, mimpi, dan harapan.
Pertama kali mengenal kalian, tidak pernah saya mengira bahwa akan terjalin sejauh ini. Kupikir, sebatas persahabatan biasa semasa SMA. Sekadar kawan penawar duka dan pencipta tawa.

Hingga waktu bergulir lebih cepat daripada yang pernah kita duga. Waktu mencuri dan menghadirkan kebersamaan kita. Membuat hati kita masing-masing terisi oleh rasa bahagia.

Mengenal dan mengenang.
Hal terindah tentang persahabatan yang pernah kuketahui. Cerita masa SMA takkan pernah lekang oleh perputaran bumi maupun matahari. Mereka abadi; berasal dari hati.

Kini, kita bukan lagi remaja labil berseragam. Kita adalah kata-kata yang pernah kita ucapkan dulu.
Kata-kata tentang mimpi berkuliah, mimpi kesuksesan, mimpi berumahtangga...
Meski jarak memberi jeda pada pertemuan kita, semoga ikatan ini takkan pernah renggang.

Tetaplah berkata-kata tentang mimpi kita.
Karena kita saat ini adalah kata-kata yang kita ucapkan pada hari kemarin.

Senin, 01 April 2013

Satu?

"Berapa jumlah kalian?"
"SATU!"



Semoga masih teingat di dalam benak kita tentang memori indah ini. Keakraban ketika semua masih begitu menyatu tanpa ragu. Meski diselimuti malu, "Siapa namamu? Dari SMA mana?"
Senyum yang merekah tulus. Tangan-tangan yang terulur sambil mengucapkan nama masing-masing. Ah, tidakkah kalian rindu?
Ketika nyanyian masih seirama meski tanpa nada. Ketika tawa tak memerlukan lelucon berarti, asalkan bersama. Ketika perbedaan latar belakang bukan menjadi suatu hal yang berarti. Ketika semua masih utuh tanpa ada yang merasa tersisih...

Semoga "satu" yang kita ucapkan pada waktu itu bukan sekadar bual belaka.
Ke mana perginya rasa peduli itu?
Ke mana hilangnya sapa kehangatan itu?

Mungkin lenyap... tanpa pernah kausadari.

Senin, 28 Januari 2013

Kalian...

Kebersamaan yang tercipta secara terus menerus dapat menimbulkan perasaan lain yang tumbuh begitu saja di dalam hati manusia. Cinta? Sayang?
Meskipun tidak dapat dipungkiri, hal itu biasa terjadi pada kisah cinta di antara dua orang makhluk ciptaan Tuhan. Namun, yang saya rasakan kali ini sungguh berbeda. Merasa pulang, berada di rumah, berani melepaskan jiwa yang terkekang. Merasa hidup. Merasa berarti.
Persahabatan itu sederhana.
Sesederhana kebahagiaan yang tiba-tiba ada di antara kita. Tawa lepas yang menggelitik telinga, tingkah laku unik, senyum tulus yang merekah dari bibir mereka...


Lucu.
Dulu, saya sempat berpikir bahwa persahabatan sejati hanya ada di dalam film maupun novel. Tidak ada yang berwujud nyata. Apalagi ditambah dengan pengalaman-pengalaman bersahabat saya. Mungkin saya sempat merasa sangat-sangat dekat dengan beberapa orang, lalu men-judge mereka sebagai sahabat. Karena perasaan nyaman itu.
Selang beberapa waktu kemudian, setelah berbeda sekolah dan jarang berkomunikasi, kami pun merenggang. Kehilangan. Lalu, proses pencarian sahabat-dalam-arti-sesungguhnya pun terus berlanjut.
Memasuki fase remaja, beberapa dari sahabat itu mulai muncul ke permukaan. Radarku pun menangkap sinyal-sinyal kecocokan dengan mereka. Pertemuan-pertemuan dan kebersamaan yang terangkai baik secara disengaja maupun tidak disengaja telah menguatkan kami ber-18.
Ya, kami sempat berbangga dengan keluarga baru kami: TAPE
Pasca-kelulusan dari 'masa putih abu-abu', ketakutan itu sempat muncul lagi. Akankah kehilangan lagi? Mencari lagi? Ataukah mampu bertahan hingga... batas-waktu-yang-tidak-dapat-ditentukan?
Saya mengenyahkan pikiran buruk itu. Dan waktu terus berputar, menjawab teka-teki yang memang saya takutkan sejak awal kebersamaan kami.
Perlahan, satu per satu dari kami menjauh. Ada yang membentuk 'keluarga' baru di luar sana. Ada pula yang memilih individual. Entah, apakah saya, Jeje, Astri, dan Naila adalah sisa... atau justru yang termasuk menjauh juga.

"Jadi, tinggal segini?"

Life must go on.
Pekuliahan pun dimulai. Tentu saja kami semakin terpisah. Tidak ada satu pun di antara kami yang satu jurusan. Kalaupun ada, hanya satu fakultas. Akankah kembali merenggang?
Alhamdulillah, ternyata tidak.
Kami justru semakin melekat satu sama lain. Bahkan, saya akui. Saya tidak menemukan sahabat-sahabat seperti mereka di jurusan atau pun di fakultas saya. Saya lebih dekat dengan mereka, meskipun dengan pertemuan setiap dua minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Saya pun heran, dengan pertemuan yang jarang ini, hati kami tetap terpaut satu sama lain...
Erat.
Terima kasih kepada Astri, Jeje, Naila, dan Nita. Sahabat, keluarga, sekaligus separuh tulang rusuk—sebutan dari Nita—yang selalu ada, selalu setia. Saya tidak menginginkan kesempurnaan dalam persahabatan ini. Karena ketidaksempurnaan kita akan menyempurnakan satu sama lain.
Semoga bertahan sampai...
kita berada di surga nanti
bersama kembali.

Dari seorang yang kece...mutan, untuk para sahabat kece...pian.

Senin, 21 Januari 2013

Tiga Pasang Mata

Langit sore memancarkan rindunya pada sang malam. Siluet jingga mendekap erat batas bumi. Perlahan, sang matahari bergerak turun. Menghilang di batas siluet itu dan akan kembali lagi esok hari. Lampu-lampu di sepanjang jalan kota Jakarta mulai menampakkan cahayanya. Kemacetan bak kunang-kunang bercahaya merah, putih, dan kuning di malam hari. Cantik.
Perempuan di sebelahku menyibakkan rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai. Ia akan terlihat sempurna dilihat dari sudut manapun. Ia memiliki segalanya; kecantikan, suami tampan yang kaya raya, karier yang melejit, seorang anak perempuan cantik jelita. Sempurna.
Tangan kirinya meraih ponsel dari dalam tasnya. “Jakarta macet gini, kabarin si Inka kalo kita telat,” ia menyodorkan ponselnya padaku. Aku menerimaya dan segera mengirim sebuah pesan singkat kepada Inka.

“Kayaknya kita perlu ambil jalan pintas. Balik arah deh,” pintaku.

Ia tampak berpikir sejenak dan memutar kemudi. Kami melewati jalan sempit yang hanya dapat dilewati satu mobil. Ia menggerutu kesal, takut mobil barunya lecet. Ia berceloteh dan memaki setiap orang yang mengganggu jalannya. Aku hanya diam, karena yang ia perlukan saat ini bukanlah mulut untuk berdebat, namun telinga untuk mendengarkan.

Ia ingin didengarkan.

***

Pukul 19.05 WIB kami tiba di sebuah kafe di kawasan Kelapa Gading. Seorang wanita berkerudung biru melambaikan tangan ke arah kami: Inka.

“Kalian sukses bikin gue nambah hot cappucino tiga kali, tau nggak?”
Kami tertawa kecil.
“Siapa suruh ketemuan di sini, di hari kerja pula. Kayak nggak tahu Jakarta aja!” balasku.
“Tempat ini rekomendasi dari Gina loh,” Inka melirik Gina.

Gina menyatukan kedua tangan di depan dada sambil tersenyum tanda permohonan maaf. Kami mendaratkan cubitan lembut di pinggangnya. Ia terkekeh geli.

Sebuah meja berbentuk persegi yang diisi oleh tiga orang wanita yang sibuk dengan dunia kami sendiri. Kami tidak memerlukan orang lain ketika kami sedang berkumpul seperti ini. Dunia ini milik kami. Titik.
Kami tidak memerlukan banyak kata-kata untuk mengungkapkan apa yang kami rasakan. Aku memandangi Inka dan Gina. Mata mereka berbicara sangat lantang pada mataku. Kutemukan mata Gina yang memancarkan luka. Kudapati mata Inka yang rapuh. Dan mungkin, mereka akan melihat gemuruh tak beraturan di dalam mataku. Entah.

Mata kami berbicara dalam diam.

Inka menarik napas panjang. Kami terus menatap matanya, menuntut penjelasan. Ia tersenyum dan kerapuhan itu semakin jelas. Ia mengusap punggung tangan kami yang menyatu di atas telapak tangannya. Tanpa kata, tanpa isyarat, dan kami mengerti.
Mata kami beralih ke Gina. Sosok wanita sempurna ini menampakkan lukanya di dalam bola matanya. Luka tentang kehadiran orang ketiga dalam rumah tangganya. Ia menangis di dalam matanya, tanpa airmata, namun kami mengusap lembut pelupuk matanya seakan ada air di sana. Ia tersenyum dan mengangguk. Kami mengerti.
Aku. Gina mengerlingkan matanya padaku sambil tersenyum usil. Padahal aku baik-baik saja, kurasa. Inka mencubit pipiku lembut, “Lagi jatuh cinta sama siapa sih, Non?”

Aku terkesiap. Pipiku terasa panas.

Mereka menangkap debar ini. Mereka membaca mataku. Kami saling mendengar mata kami berbicara. Kami tertawa selagi ada. Kami bahagia selama kami bersama. Kami melupakan dunia yang lain selagi terjebak dalam dunia kami ini. Kami tahu, semua akan baik-baik saja...

...selama kami ada bertiga, dengan mata yang selalu berbicara tanpa kata.
Kami mengerti.


Sabtu, 15 Desember 2012

R4♥


Jika aku memiliki malam gelap yang kosong, maka mereka adalah tiga buah bintang yang muncul untuk menyinari malamku. Tanpa mengharap sang bulan akan hadir menemani ataupun tidak, mereka pasti muncul. Terkadang berjauhan, terkadang sangat dekat. Namun, satu yang pasti; mereka selalu ada.

Teruntuk Astri Ratnasari, Naila Syahidah, dan Zaenab Lubis, yang telah menjadi bintang untukku. Meski pagi datang, pesona sang bintang tidak akah pernah terlupakan. Pagi akan selalu merindukan malam dengan tiga bintang seperti kalian…




Sabtu, 13 Oktober 2012

ACI & ICA


Aci sedang menjalani ritualnya. Mendatangi Kansas—Kantin Sastra—setiap selesai kelas. Ia mencari-cari sosok yang telah memenuhi inbox HP-nya selama kelas berlangsung tadi. Matanya langsung tertuju pada perempuan big size yang memakai kaus oblong bergambar Candi Borobudur. Beberapa langkah ia mendekati perempuan itu, dan langsung shock melihat piring-piring dan gelas telah ludes tanpa sisa di mejanya.

"Dua porsi ayam penyet, siomay, jus alpukat, es teh manis?! Dan... Lo mau kemana lagi?"
"Mesen es buah. Lo mau?" jawabnya dengan mulut yang masih dipenuhi jus alpukat.
"Sinting!" Aci melotot mendengar jawaban sahabatnya itu.
“Eh, yaudah pesenin gue juga! Dua porsi ya! Dan bayarin!” teriak Aci kemudian.
Kini gantian Ica yang melotot.

***

Ica tidak mengerti. Meskipun sama-sama penggila makanan, keduanya tak pernah benar-benar sama. Ica memandangi dirinya di cermin. Tubuhnya bulat bagaikan semangka. Lalu, ia melirik foto Aci di meja belajarnya. Langsing, bahkan dapat dikatakan kurus. Ica mengangkat alis. Bagaimana mungkin?

***

Tangan yang pucat dan gemetar itu berpegangan pada gagang pintu toilet di Gedung IX.
TES…
Setetes bercak merah menodai lantai toilet yang putih bersih itu.
TES… TES…
Ia tahu saat seperti ini akan tiba. Aci meraba bagian bawah hidungnya. Basah… dan merah. Kemudian gelap.

***

“Pulang yuk, Ca. Udah jam sembilan nih…” Dani membujuk perempuan di hadapannya.
Tak ada jawaban.
“Ca… Ayo…” Dani masih berusaha.
Tak ada tanggapan.

Dani menghela napas. Perempuan yang dicintainya ini masih saja seperti ini sejak tiga hari yang lalu. Mendatangi Kansas, duduk di kursi yang sama, kemudian berdiam diri dengan tatapan yang kosong, sesekali tersenyum, kemudian menangis tanpa suara.

Dani tidak tahu. Tiga hari yang lalu, Ica mematung di depan sebuah batu nisan.

Asih Maharani
binti
Hadi Purnomo
Lahir: 19-08-1992
Wafat: 19-08-2012

Ia memeluk erat sebuah kotak berwarna biru muda dengan pita cantik di sudutnya. Harusnya kamu melihat kado dariku ini, Ci. Selamat ulang tahun…Ica membiarkan dirinya terisak di atas tubuh sahabatnya yang sudah terkubur itu.

Sahabat Setia (A present for Zaenab Lubis)


Seorang perempuan berambut panjang melambaikan tangannya dari kejauhan. Aku pun berlari dan menyambutnya dengan pelukan hangat penuh rindu. Setelah pada malam sebelumnya aku bercerita keluh kesahku, ia mengajak untuk bertemu. Sekian lama tidak bertemu, penampilannya tidak banyak berubah. Perempuan berdarah Batak yang biasanya mengenakan sepatu itu, kini mengenakan sepasang sepatu sandal yang cantik. Mungkin ia ingin tampil lebih feminin.

Pertemuan kami siang itu membuatku mengenang persahabatan kami sejak awal SMA. Saat berkenalan dengannya, aku sama sekali tidak menyangka akan bersahabat dengan perempuan yang tampak cuek ini. Namun, dugaanku ternyata salah. Kesediaannya untuk mendengarkan curahan hatiku, sekaligus pemberi saran bagi masalah-masalah yang sedang kuhadapi, membuat kami akrab dan saling terikat dalam sebuah persahabatan.

Tiba-tiba aku terkikik melihat tingkahnya. Ia duduk bersila di atas sofa Perpustakaan Pusat UI sambil membaca sebuah buku dengan wajah yang polos. Ia memang selalu seperti itu. Tidak suka diatur dan sering berbuat konyol. Bahkan ia pernah pergi dari rumah tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Tindakannya itu membuatku panik, karena bagaimanapun juga, ia adalah seorang perempuan. Untung saja, ia kembali pulang setelah puas melepas emosinya dengan cara tersebut.

Meskipun di antara R4—nama geng yang beranggotakan aku, Jeje, Astri, dan Naila—hanya Jeje yang belum mendapat kesempatan berkuliah di UI, namun kami selalu memberi dukungan dan motivasi untuknya. Perempuan bernama lengkap Zaenab Lubis itu memang selalu ada. Di saat aku, Astri, dan Naila terjebak di sela-sela kesibukan kampus, ia dengan setia menanyakan kabar kami, bertanya apakah ada waktu luang untuk kami bisa bertemu. Sosok sederhana itu tak pernah berubah, ia selalu menjadi sandaran ketika aku gundah, selalu memiliki tangan yang menghapus airmataku, selalu tertawa untuk menghiburku. Inilah kami, selalu ada; selalu setia.

Selasa, 19 April 2011

Vrienden~

Mijn beste vriend is een daling van ochtenddauw
droogte van de gevallen natte lever
te kunnen om de hele tuin hart te bevruchten
in de koelte

Mijn vrienden zijn de sterren aan de nachtelijke hemel snelweg
eenzaamheid die gepaard gaan met de rouwende maan
te kunnen verlichten van de donkere wereld
in de saamhorigheid

Mijn beste vriend is een schaduwboom met duizend takken
de paraplu van de ondraaglijke hitte van de zon
te kunnen schaduw bieden
die in vrede

O dwalende wind
verkondigen aan me over haar

Mijn beste vriend is een verzameling van bronwater uit de heiligemeer
helder stromend eindeloos
te kunnen zichzelf dorst te elimineren
de versheid

Mijn beste vriend is de regen die viel
een slang elke centimeter van de aarde een stoffige chronische
te kunnen om de kroon van bloemen en dedaun schone
in zuiverheid

Mijn vrienden zijn de stukken van diamant sieraden
prachtige mousserende als een weergaloze gave
te kunnen naar de geest charme verspreid
van schoonheid

O vogel geluid ambassadeur
Vertel me over haar aanwezigheid



*translate poem by Google Translate*

Senin, 08 Februari 2010

Unique Friendship

di SMA 49 , banyak banget sih temen-temen yang bisa diajak asik2 , tapi menurutku , DUA SPESIES inilah yg paling asik buat diajak BestFriend-an ..

>> Naila Syahidah <<
emang udah sahabat sejak SMP , walaupun dulu sempet ada konflik gitu , tapi tetep aja sekaran damai lagi , dan BERSAHABAT lagii dongg :D
akhwat banget , ngajarin gue berbagai hal tntg Islam , tapi kadang dia sensi banget , udah gitu , dia juga yg ngajarin gue banyak pelajaran . hahaaaaa secara , dia tuh pinter looh ? wkwkwk

>> Yulian Pratiwi <<
entah darimana datengnya , ini orang tiba2 jadi temen gue . hahaha kidding yul ! yaaa , dia tuh orangnya kocak , gila , TOA ! suaranya kenceng ! wkwkwk
alhamdulillahnya , setelah pake 'jilbab' , dia jd sedikit lebih feminin , dan ngga se-GILA duluu .. hehe
pokonya asikasik daaaaaaaaah sama ni orang !



sebenernya masih ada :
- Astri Ratnasari
- Fauzia Hanum
- Intan Sulistianti
- Intan Ayu Khamalia
- Reffi Eka Wulansari
mereka BestFriend-ku juga koook :)))

HOPE YOU LIKE THIS