Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

Sebelum Memiliki


Matanya menatap kosong pada jendela kamarnya yang berembun. Hujan rintik-rintik hadir lebih awal daripada sang fajar. Kemeja hitam membuat lelaki berkulit putih itu tampak lebih cerah. Kontras dengan warna kulitnya. Sayangnya, matanya memancarkan sendu tak yang tak dapat diukur dengan satuan apa pun.

Ia kehilangan, bahkan sebelum ia sempat memiliki.

Namanya Fikar, namun perempuan itu memiliki panggilan khusus untuknya. “Fi” sudah cukup untuk membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Fikar tahu, hanya Nafi yang akan memanggil dengan panggilan itu.
Fikar tersenyum tipis. Ia bangkit dan berjalan meninggalkan kamarnya. Menuju rumah sebelah yang telah ramai sejak semalam. Pesta kepergian sedang dirayakan di sana. Hujan turun semakin deras. Fikar bersumpah, ia akan membenci hujan setelah hari ini.

***

Satu bulan sudah, Nafi berada di dalam ruangan ini. ruangan putih yang selalu rutin dikunjungi oleh orang-orang berseragam putih. Ia tidak bahagia, namun tetap ingin tersenyum. Berharap mukjizat yang nyata segera menghampiri setiap insan yang tersenyum. Nafi tahu, ia merindu. Merindu kepada lelaki yang tak sepatutnya ia rindukan.

Mencintainya hanya akan membuatku semakin sulit untuk pergi, batinnya.

Selang infus yang terhubung ke pergelangan tangannya tidak menyurutkan jemarinya untuk tetap bergerak. Menulis, menulis, dan menulis. Tanpa banyak berharap tulisannya akan dibaca. Ia menumpahkan segalanya.

Rindu. Cinta. Sepi. Sakit. Pergi.

Tulisan tangannya berhenti, tepat setelah huruf ‘F’ dan “i” tertulis di kertas itu. Darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Meninggalkan bercak merah basah pada baju biru yang dikenakannya. Hening. Beberapa menit kemudian, terdengar jeritan adiknya memanggil perawat. Nafi tak bergeming. Selamanya.

***

Teruntuk sahabat, kerabat, sekaligus cinta yang tak pernah kumiliki: Fi

Fikar terpaku memandangi tulisan tangan itu. ia tahu, segalanya terlambat. Andai dulu ia lebih berani mengungkapkan perasaannya kepada sahabat kecilnya itu. andai dulu ia tidak mengambil kuliah di London. Andai dulu ia menemani Nafi di rumah sakit...

Andai. Semua akan tetap menjadi “andai” yang abadi. Ia memeluk batu nisan itu. Tanpa suara, membisikkan cinta yang hanya mampu dipahami oleh semesta.

Selasa, 01 Januari 2013

Kejutan Dari Masa Lalu


Senyap. Dari kejauhan, hanya terdengar bunyi detak jam dinding di ruang tamu. aku pun tidak tahu apakah jantungku masih berdetak? Ia tak terdengar, bahkan di tempat yang sunyi seperti ini.
Tetiba, mataku terarah pada sebuah bingkai foto di sudut kamarku. Sebuah bingkai foto bewarna putih yang berbentuk seperti bianglala. Senyumku mengembang. Sesuatu di dalam dadaku meledak-ledak. Aliran darahku menjadi tak beraturan. Dan detak jantungku... kini nyata terdengar.
Enam tahun berlalu sejak pemberian bingkai foto itu. Seharusnya aku sudah lupa. Seharusnya tak perlu ada senyum dan degup tak beraturan ini lagi.

...dan ternyata aku masih (sangat) mengingatnya.

Seseorang yang kepadanya tak pernah kusangka-sangka hatiku akan jatuh di sana. Laki-laki aneh berambut ikal dan senyum manisnya yang khas. Matanya yang berbinar ketika melihat berbagai stuff di Festival Jepang. Wajah lugunya yang entah mengapa selalu dapat membuatku tertawa, bahkan ketika ia diam sekalipun.
Berbagai tempat saat kita menghabiskan waktu berdua, yang rasanya tak mungkin akan kulupakan. Setiap sudut kota Jakarta dan Depok memiliki cerita, bersamamu. Dulu.
Yang lebih menderitanya lagi, kampus kita pun menyimpan kenangan itu. Ditambah lagi dengan posisi fakultas kita yang berseberangan. Aku tidak mengerti, mengapa jarak yang begitu dekat ini pada akhirnya yang menyatukan kita sekaligus membunuh kita berdua.

Hening kembali.

Aku tak ingin berlama-lama mengintip masa lalu yang telah terkubur rapi. Segera kusibakkan jendela kamar. Ternyata matahari telah bersinar terang.

Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi.

Ponselku berbunyi, tanda sebuah pesan masuk. Nama pengirim dan isi pesannya membuatku terpelanting kembali ke tempat tidur. Apa yang telah terkubur selama enam tahun ini, menjadi kacau lagi. Memang tak sepantasnya aku menyimpan sesuatu yang tidak lagi menjadi milikku.

From: R
Hi guys, dtg ke pesta pernikahan gue ya. 20 Juni 2019 di Gd. Hotel Kartika. Garden party gt. Dtg ya! :D
-Rizal & Bunga-

Minggu, 30 Desember 2012

Kembali Hidup


Sinar matahari pagi menembus masuk melalui celah jendela yang terbuka. Sinar itu jatuh menerpa wajahku. Silau. Aku meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa pegal akibat timbunan asam laktat di beberapa bagian. mataku menyapu seisi ruangan. Di sini tidak ada kehidupan. Bahkan aku pun telah mati di depan pintu kamar ibuku sendiri.

Hatiku telah mati.

Perlahan, kuputar kunci dan membuka pintu kamarnya. Ia masih terlelap bak seorang balita. Wajahnya yang polos, pakaiannya yang lusuh, serta jiwa yang tidak lagi utuh. Mungkin Tuhan telah mengambil beberapa bagian dalam otak dan hatinya sehingga ia dapat memukuli ayah semalam.

Ah. Ayah.

Setelah dipukuli dengan berbagai benda yang ada di rumah, ia hanya menunduk terdiam. Ibu tetap meneriakinya tanpa ampun, “Laki-laki bejat!!! Pengkhianat!!!”
Kemudian ia pergi dengan tas ransel di punggungnya dan membawa satu-satunya barang berharga di rumah ini. Sebuah sepeda motor. Tanpa menoleh, ia terus melangkah menuju pintu. Mungkin, saat itu ia lupa bahwa ada seonggok daging yang berasal dari air maninya sedang menatap menuntut penjelasan dari balik punggungnya. Sampai ia menghilang di ujung jalan, aku menyadari bahwa aku telah mati.

Kehidupanku mati, dimulai sejak malam tadi.

***

Ia meraung-raung sambil mencakari tubuhnya sendiri. Darah mulai terlihat di sekujur lengan dan pipinya. Aku memeluknya erat sambil menahan airmataku yang hendak berontak. Tidak. Aku harus kuat menghadapi semua ini. Harus.
Bahkan ia mulai mencakari lenganku yang sedang memeluknya. Aku meringis, menahan sakit. Sungguh, luka ini belumlah seberapa dibandingkan dengan luka di dalam hatinya. Kulihat ia mulai kelelahan. Ia tertawa dengan tatapan mata kosong, kemudian membeku tanpa suara.

Ternyata ia tersenyum...

Oh! Bukan! Ia menangis di balik senyumnya. Sebuah luka pengkhianatan ayah tergambar jelas di sana. Aku melepaskan pelukanku. Kutatap wajahnya yang penuh luka itu.

Benarkah wanita ini adalah seorang ibu yang telah melahirkanku?

Pikiran-pikiran jahat yang dikirimkan iblis mulai merasuk. Ingin rasanya kutinggalkan ia, berlari menjauhi wanita yang tak berjiwa ini dan menemukan hidupku kembali. Aku akan hidup bahagia untuk selamanya.

Sinar matanya meredup. Ia meraih bahuku dan akhirnya menangis histeris. Saat itulah, aku menyadari bahwa aku masih diinginkan; masih dibutuhkan. Tuhan tidak benar-benar membuat hidupku hancur.

Tak perlu lagi kutemukan hidupku kembali. Dua puluh tahun yang lalu, wanita inilah yang 
telah membantu proses kehidupanku. Dan saat ini pula, dialah alasanku untuk mencoba hidup kembali.

Tak lagi kuperlukan kebahagiaan dunia. Cukup di dalam peluknya, hidupku utuh kembali.


Minggu, 18 November 2012

Hujan Untuk Pelangi


Pelangi.

Kamu memandanginya dengan penuh kekaguman. Berlari sambil berteriak kegirangan padaku, “Lihat, Jo! Ada pelangi di sana!”. Lalu, aku akan tersenyum sambil berlari mengikutimu dari belakang.
Rambutmu yang panjang terurai menerpa wajahku. Apa daya? Aku selalu jatuh cinta pada senyummu yang mengembang setiap kali ada pelangi. Ah, bukan. Lebih tepatnya, bukan hanya saat kamu memandang pelangi. Namun di setiap saat; di setiap lengkung senyummu, ada aku yang setia mengaguminya.

“Mir, kenapa kamu suka pelangi?” tanyaku sore itu, ketika kamu sibuk menggambar pelangi di buku catatanmu.
“Hmm, kenapa, ya? Karena pelangi itu nggak bisa kita jumpai setiap saat, Jo.”
“Jadi, kamu selalu suka pada hal yang tidak sering kamu jumpai?” tanyaku lagi.
“Nggak juga, sih. Pelangi itu punya daya magis. Seakan perpaduan warnanya membuat mataku terpaku dan nggak bisa lepas. Dia indah, nggak akan pernah bikin perasaan kita sakit…”

Aku meluruskan kedua kakiku. Mataku tak lepas mengamatinya berbicara.

“Mira…”
“Kenapa, Jo?”
“Aku mau jadi hujan.”
“Loh, kenapa?”
“Karena tanpa hujan, nggak akan ada pelangi. Aku rela jadi apa pun asal bikin kamu bahagia.”
“Jovana, you’re so sweet! Karena kita sahabatan, kan?” kamu memelukku.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.

“Bukan. Karena aku mencintai kamu, Mira.” bisikku sambil membelai rambut indahnya.

Sabtu, 17 November 2012

(Bukan) Cinderella


Pukul 08.14
“What?!” aku melompat turun dari tempat tidurku.
Ketika aku menyikat gigi, handphone-ku tak henti-hentinya berdering. Nama yang muncul di layar handphone membuatku ingin segera terbang melesat menuju kantor. Detik ini juga.


Pukul 08.55
Akhirnya kereta itu datang juga. Dengan perasaan yang meledak-ledak setelah mengangkat telepon dari Boss, aku mencoba tetap tenang di kereta.

“Berkasnya kan ada di kamu! Kalau dalam tiga puluh menit kamu belum sampai ke sini, jangan harap saya akan mengangkatmu menjadi pegawai tetap!” ancam Bu Diana, Manajer di tempatku bekerja.

Tetiba seorang pria menepuk pundakku.

“Cindy?” matanya mengamati wajahku.
Aku berpikir cepat. “Randy?”

Kepanikanku runtuh sudah. Pria itu mengembangkan senyum di wajahnya. Hatiku meleleh. Lebih tepatnya, selalu meleleh. Tidak berubah, sejak aku mengenalnya di kampus, tiga tahun yang lalu.

“Kamu kerja? Turun di stasiun mana?” tanyaku.
“Stasiun Cikini. Kamu?”
“Oh… Manggarai.” Jawabku ringan.
“Apa? Ini kan Stasiun Manggarai…”
Kepanikanku kembali muncul. Kurasakan kereta mulai berjalan lagi.
“Permisi!! Permisi!! Saya harus turun!!” aku menerobos penumpang lainnya, menuju pintu keluar kereta.
“Aaaaargh!” akhirnya aku berhasil keluar dari kereta itu.

Aku setengah berlari untuk menghampiri ojek di area stasiun. Kemudian, kusadari ada yang ganjil dengan penampilanku.
Sepatuku. Tinggal satu.


Pukul 20.00
Aku pulang dengan mengenakan sepasang sandal pinjaman temanku di kantor. Aku memaki diriku yang tidak menyadari sepatuku terlepas di dalam kereta.
Dan terlintas di benakku, bahwa aku tadi belum berpamitan pada Randy! Bahkan, belum bertanya apa pun selain stasiun tujuannya. Lagi-lagi aku merasa bodoh. Setelah kehilangan jejaknya selama berbulan-bulan, Randy yang tadi ada di hadapan mata telah kusia-siakan. Malam itu, rasanya aku ingin menangis di balik selimut. Mengutuki diriku yang tak henti-hentinya membuat kecerobohan.


Pukul 11.51
Seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Ada yang mau ketemu kamu. Duh, malam-malam begini…” kata Mama ketika aku membuka pintu.
Aku menuju teras untuk melihat siapa yang ingin menemuiku di tengah malam begini.

Randy?

“Ini sepatumu, Cin. Maaf, tengah malam begini aku ke rumahmu. Tadi aku mencari tahu rumahmu lewat teman-teman kuliah. Malah tadi sempat nyasar juga. Hehehe…”

TENG. TENG. TENG. TENG. TENG. TENG. TENG. TENG. TENG. TENG. TENG. TENG.
Pukul dua belas malam.

“Cindy… Ehem, kamu mau jadi Cinderella-ku?” ucapnya sambil bertekuk lutut dengan kedua tangan memegang sepatuku yang tertinggal di kereta tadi.

Aku terpaku. Pangeranku…


Bibit Mawar


Dimana aku?
Terlihat seorang wanita renta sedang menyirami bunga. Bunga itu berwarna merah. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona oleh keindahan warna kelopak bunga itu. Aku pun mendekati nenek itu.
Belum sampai aku mendekatinya, perempuan itu sudah membalikkan badan dan menatapku dengan tatapan yang tajam.

“Eh, saya…” aku panik.
“Jangan ganggu bunga mawarku! Tanam dan rawatlah bungamu sendiri!” suara parau nenek itu membuat telingaku ngilu.

Nenek itu menyodorkan sebuah bungkusan. Beberapa detik setelah bungkusan itu berada di tanganku, aku kehilangan keseimbangan
Yang selanjutnya kulihat adalah sinar mentari yang menerobos jendela kamarku.

***

KRIIIING!
Alarm handphone-ku berdering. Aku bangkit dari tempat tidur dan merasakan sesuatu di bawah punggungku.
Bungkusan itu?!

***

Ternyata bibit bunga mawar.
Setelah kurawat selama berbulan-bulan, mawar itu mulai merekah malu-malu. Penantian itu terbayar sudah. Mawar merah yang cantik kini menghiasi halaman rumahku. Meskipun ukurannya masih kecil, tanaman ini terlihat sangat segar dan anggun.
Kalau kamu seorang manusia, pasti aku akan segera melamarmu… aku bergumam.

***

Dimana aku?

“Hai, Rama…” suara seorang perempuan mengejutkanku.
“Eh… Kamu… S-siapa?”

Perempuan bergaun merah itu tidak menjawab. Matanya menatap lurus ke arahku.
Ya Tuhan, bagaimana mungkin ada makhluk seindah ini di tengah hutan?

“Terima kasih telah merawatku. Kamu sungguh manusia yang baik hati, Ram.” perempuan itu tersenyum. Manis sekali.

Aku yang masih kebingungan kemudian diajak mengelilingi hutan. Ternyata hutan ini tak seburuk yang kubayangkan. Atau… Karena ada perempuan ini di sampingku?

“Ehem, ngomong-ngomong namamu siapa?” tanyaku memberanikan diri.
“Mawar.” Jawabnya sambil tersenyum ke arahku.

Aku tercekat, menyadari sesuatu yang ganjil di sini.

***

“Ramaaaa! Bangun!” ibuku berteriak di depan pintu kamarku.

Sial. Ternyata mimpi!
Aku membuka pintu kamar dengan malas-malasan. Di ruang tamu, ibuku sedang berbicara dengan seseorang.

“Nah, ini anak laki-laki saya. Ayo Rama, kenalan dulu…”

Napasku berhenti ketika mataku bertemu dengan mata indah itu. Perempuan berbaju merah itu tersenyum ke arahku.

“Mawar…” ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arahku.



Sabtu, 03 November 2012

Semangkuk Bubur Kacang Hijau


Tidak ada yang berani mengakhiri semua ini. Ketika kau membisu selama seminggu ini. Ketika tak ada hal yang dapat kulakukan selain menjagamu dengan sebaik mungkin…

“Kamu mau makan apa nanti malam?” tanyaku.
Tidak ada jawaban.
“Mas, mau makan apa? Nanti aku masakin deh…”
“Nggak usah.” jawabmu. Singkat.
Aku tertegun. Marahkah kau padaku?

Aku mencoba menghapus semua pikiran burukku. Aku bergegas menuju dapur, ingin membuatkan sesuatu yang dapat menghangatkan perutmu di malam yang dingin ini.
Semangkuk bubur kacang hijau. Akumenghirup aromanya sambil tersenyum penuh harap. Semoga Mas Didit suka…

Baru saja aku membalikkan tubuh, lelaki berkumis tipi situ sudah berada tepat di hadapanku.

“Eh, Mas… Ini…”
“Mengapa kamu melakukan semua ini?” tanyamu.
“Aku? Apa, Mas?”
“Kamu tahu kan, aku berselingkuh dengan rekan kerjaku. Aku tahu kau menangis di balik selimut ketika aku pulang. Aku tahu kau tak lagi menuntut apa-apa dariku, bahkan hanya untuk sebuah pelukan. Kau tidak membutuhkanku lagi?”
“Mas… Aku—“ tenggorokanku terasa nyeri.
“Aku telah memperlakukanmu dengan jahat. Jahat sekali. Kenapa kau tidak membalasnya? Kenapa kau tetap membuatkanku bubur kacang hijau kesukaanku?” matamu berkaca-kaca.

Aku gemetar. Kau tidak jahat, Mas… Aku yang jahat…

“Rekan kerjamu itu adalah temanku. Aku menyuruhnya untuk menggodamu. Aku ingin tahu seberapa besar kesetiaanmu padaku, Mas…” kataku sambil terisak.
“Lalu?”
“Aku tahu kau tidak akan melakukan ini semua. Kau pasti menolaknya. Kau tidak berselingkuh. Hanya aku yang meragukan kesetiaanmu, Mas. Maafkan aku…”
Sesuatu yang hangat meraih pundakku. Memelukku erat dan diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di keningku.
“Tidak perlu meminta maaf lagi. Lupakanlah semua itu. Istriku tersayang, ayo kita habiskan semangkuk bubur kacang hijau ini. Berdua.” sebuah senyum mengembang di bibirmu.

Aku mengangguk, meraih tangan kananmu. Hangat.
Aku tahu, tak seharusnya aku meragu pada lelaki yang berhasil mengunci hatiku ini.

Rabu, 24 Oktober 2012

Panggilan Untukmu

Namaku Gusti Pradana Mulya Kusumadiningrat. Kebanyakan orang memanggilku Gusti. Namun, tidak denganmu. Kamu selalu punya nama yang berbeda untukku.

Di awal perkenalan kita, kamu dengan santainya mengajukan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan.
"Kupanggil Gusgus saja, ya?"

Kemudian, pada pertemuan kita selanjutnya, kamu berkata bahwa nama Gusgus kurang enak didengar. Dan lagi, kau ajukan pertanyaan itu.
"Kupanggil Pradan saja, ya?"
Kali ini kubalas dengan anggukan kecil dan sebuah senyuman untukmu.
Kalau saja kau menyadarinya...

Namamu Ratu Anggita. Orang-orang sering memanggilmu Anggi. Namun, tidak denganku. Meskipun aku tetap memanggilmu "Anggi", hatiku punya nama spesial untukmu.
Ratu. Ya, kamulah ratu penguasa hati dan pikiranku.

Pada suatu senja di sebuah kafe kecil di kawasan Depok, kita sedang menikmati kebersamaan dalam diam. Kemudian, suaramu yang merdu memecah dinding kekakuan di antara kita.

"Pradan, apa kamu tidak suka dengan nama panggilan dariku?"
"Suka kok. Kenapa, Nggi?"
"Mm... Gak papa sih." jawabmu ragu.

Aku bisa membaca matamu yang gugup saat berbicara padaku. Mungkin, begitupun dengan aku. Beberapa menit berlalu dalam diam. Kamu sedang memainkan sedotan di dalam gelas jus milikmu.
Kurogoh saku celanaku. Sebuah kotak kecil berwarna merah tampak begitu berat bagiku.

"Nggi..." panggilku.
"Ya?"
"Aku punya nama panggilan baru untukmu. Tapi, itu kalau kamu mengizinkannya..."
"Apa?" tanyamu, antusias sekali.

Tanpa ragu, kutunjukkan kotak kecil berisi sepasang cincin indah itu.

"Aku ingin memanggilmu... Istriku." ucapku, mantap.

Kamu terpaku. Matamu tampak berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian, jari-jari lentikmu sudah berada di sela-sela jemariku.
Aku menganggap itu sebagai jawaban.

Senin, 22 Oktober 2012

Sebaris Pelangi

Aku menatap hampa pada sebaris pelangi yang berada di langit sore itu.
"Andai saat ini ada kamu di sampingku…" kataku, lirih.

Mataku menyapu seluruh taman ini. "Taman Cerita", katamu waktu itu.
Ya, tempat kita menghabiskan waktu selepas sekolah. Aku akan setia menatap matamu yang bersemangat itu dengan perasaan kagum. Dan kamu akan setia dengan cerita-ceritamu yang tidak pernah berganti sejak awal pertemuan kita, Si itik buruk rupa.

***

"Mengapa aku berbeda?" tanyamu di suatu pagi.
"Apa?" aku mengalihkan pandanganku dari novel yang sedang kubaca.
"Seperti itik itu, kenapa aku berbeda?"
Aku tertegun.
"Panji kenapa nanya begitu?" tanyaku kembali, sambil menatap matanya yang teduh.
Ia terdiam, kemudian kembali tenggelam dalam dunianya, sebuah buku berjudul "Si Itik Buruk Rupa".
Aku menghela napas. Panji memang selalu seperti itu…

***

"Aku tidak mengerti. Aku memang anak bodoh." katamu.
"Panji! Jangan bicara seperti itu!" bentakku.
"Aku tidak mengerti semua ini. Apa salahku? Mengapa ayah dan ibu membiarkan aku terlahir di dunia dengan keadaan seperti ini? Sedangkan kamu dan Citra, semuanya sempurna. Kalian bisa bersekolah dan berteman dengan siapa saja! Sedangkan aku…" suaramu tertahan.
"Cukup, Panji!!!"
Kau mundur beberapa langkah, kemudian berlari menjauhiku.
Dapat kurasakan mataku memanas dan air turun membasahi pipiku.

Panji, maaf…

***

Aku menghirup udara di dalam ruangan bernuansa putih itu. Bau obat-obatan menusuk hidung. Sedetik kemudian kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh jemariku.

"Kak…" bisikmu.
"Panji… Kakak di sini, sayang."
"Kak, aku mau pulang."
"Iya, sayang. Kalau Panji udah sembuh nanti kita pulang ya, kita ke Taman Cerita lagi, ngeliat pelangi sehabis hujan, terus beli mainan yang banyak buat Panji di pasar. Makanya, Panji cepat sembuh ya…" airmataku berjatuhan.

Kau tak menjawab, hanya tersenyum. Perlahan, matamu menutup. Kau kembali diam dan tak ada reaksi ketika kusentuh kepalamu yang bersih tanpa sehelai rambut pun.
Aku membalas senyummu, sambil menahan air yang telah membanjiri kedua pelupuk mataku.

Sejak saat itu, aku selalu menyimpan senyumnya di hatiku. Sebuah senyuman tulus dari seorang bocah penderita tumor kulit ganas…

***

Selamat jalan, Panji… Aku melambaikan tangan pada sebaris pelangi di sore itu.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Di antara kita

Mulutnya tak henti-henti bercerita. Tentang tugas-tugas kuliahnya, kegiatan ospeknya, pola tidurnya selama seminggu ini…
Aku mencoba tetap memasang wajah antusias sambil sesekali tersenyum mendengar ceritanya. Meskipun aku sungguh tidak tertarik. Sangat tidak tertarik dengan cerita-ceritanya itu.
Perempuan di hadapanku ini mengernyitkan alisnya. Dengan wajah polosnya, ia bertanya apakah aku baik-baik saja. Ya, tentu aku masih baik-baik saja… Sebelum mendengar cerita-ceritanya yang mengorbankan waktu bermain game-ku ini.

***

Aku tidak yakin apakah ia mendengarkan ceritaku ini atau tidak.
Sudah sebulan belakangan ini ia berbeda. Apa ia pikir aku bodoh?
Ketika semua pesan singkatku hanya dibalas sesingkat-singkatnya dan terjawab dalam waktu yang lama. Aku harus menunggu dua jam hanya untuk sebuah balasan: “Ya, terserah.”
Fan, aku merasakan perubahan itu…

***

Siang ini, kau mengajakku bertemu. Dengan alasan tugas kelompok, aku akan menolak ajakanmu itu.

***

Padahal aku ingin membicarakan hubungan kita ini, Fan…

***

Satu bulan, enam bulan, satu tahun…
Ia tidak mencoba menghubungiku. Begitupun dengan aku.
Ya, lelaki bodoh bernama Irfan ini sedang duduk di selasar Gedung VI. Dari sini, aku akan dapat melihatnya dengan jelas. Perempuan yang dulu menjadi pengisi hari-hariku yang datar, berisi hafalan buku-buku kuliah. Perempuan yang dulu selalu bercerita tentang hari-harinya.
Kini, aku masih dapat melihatnya dengan jelas... Kecuali perasaannya terhadapku.

***

Sedetik yang lalu, aku masih ada di sini untukmu, Fan. Namun, kamu kemana?
Haruskah aku bertahan, sedangkan ada seseorang yang lain dengan setia selalu mendengarkan ceritaku dengan tulus? Haruskah aku tetap mengharapkanmu kembali, sedangkan seseorang yang lain sedang menyatakan perasaannya yang begitu mendalam padaku?
Tanyakan pada miniatur Candi Jawi di Taman Arkeologi itu. Betapa perasaanku bergejolak, kemudian kubiarkan seseorang yang lain itu mengisi jemariku yang sudah lama tak pernah ia genggam.
Aku mengangguk. Memantapkan hatiku.
Selamat tinggal, Fan…

Sabtu, 13 Oktober 2012

ACI & ICA


Aci sedang menjalani ritualnya. Mendatangi Kansas—Kantin Sastra—setiap selesai kelas. Ia mencari-cari sosok yang telah memenuhi inbox HP-nya selama kelas berlangsung tadi. Matanya langsung tertuju pada perempuan big size yang memakai kaus oblong bergambar Candi Borobudur. Beberapa langkah ia mendekati perempuan itu, dan langsung shock melihat piring-piring dan gelas telah ludes tanpa sisa di mejanya.

"Dua porsi ayam penyet, siomay, jus alpukat, es teh manis?! Dan... Lo mau kemana lagi?"
"Mesen es buah. Lo mau?" jawabnya dengan mulut yang masih dipenuhi jus alpukat.
"Sinting!" Aci melotot mendengar jawaban sahabatnya itu.
“Eh, yaudah pesenin gue juga! Dua porsi ya! Dan bayarin!” teriak Aci kemudian.
Kini gantian Ica yang melotot.

***

Ica tidak mengerti. Meskipun sama-sama penggila makanan, keduanya tak pernah benar-benar sama. Ica memandangi dirinya di cermin. Tubuhnya bulat bagaikan semangka. Lalu, ia melirik foto Aci di meja belajarnya. Langsing, bahkan dapat dikatakan kurus. Ica mengangkat alis. Bagaimana mungkin?

***

Tangan yang pucat dan gemetar itu berpegangan pada gagang pintu toilet di Gedung IX.
TES…
Setetes bercak merah menodai lantai toilet yang putih bersih itu.
TES… TES…
Ia tahu saat seperti ini akan tiba. Aci meraba bagian bawah hidungnya. Basah… dan merah. Kemudian gelap.

***

“Pulang yuk, Ca. Udah jam sembilan nih…” Dani membujuk perempuan di hadapannya.
Tak ada jawaban.
“Ca… Ayo…” Dani masih berusaha.
Tak ada tanggapan.

Dani menghela napas. Perempuan yang dicintainya ini masih saja seperti ini sejak tiga hari yang lalu. Mendatangi Kansas, duduk di kursi yang sama, kemudian berdiam diri dengan tatapan yang kosong, sesekali tersenyum, kemudian menangis tanpa suara.

Dani tidak tahu. Tiga hari yang lalu, Ica mematung di depan sebuah batu nisan.

Asih Maharani
binti
Hadi Purnomo
Lahir: 19-08-1992
Wafat: 19-08-2012

Ia memeluk erat sebuah kotak berwarna biru muda dengan pita cantik di sudutnya. Harusnya kamu melihat kado dariku ini, Ci. Selamat ulang tahun…Ica membiarkan dirinya terisak di atas tubuh sahabatnya yang sudah terkubur itu.

Kamis, 11 Oktober 2012

Hujan Pengantar Rindu


Hujan rintik-rintik memberi nuansa dingin di kampusku. Membasuh jiwa-jiwa yang kekeringan. Langit kelabu itu bagaikan sebuah isyarat...


Meskipun kelas telah selesai sejak satu jam yang lalu, aku sama sekali tak berniat untuk pulang ke rumah. Duduk di payung selasar Gedung I merupakan ritual yang selalu kulakukan setiap selesai kelas.
Aku mengambil sesuatu dari tas ranselku. Sebuah scrap book berwarna biru muda buatanku yang sudah tampak usang.

Kubuka halaman pertama...
Sebuah foto seorang wanita berjilbab bersama lelaki berambut ikal di sampingnya. Wajah mereka terlihat sangat bahagia.

Kubuka halaman kedua...
Sebuah tulisan tangan yang indah. Bertuliskan inisial huruf: "A&D"

Kubuka halaman ketiga...
Mataku terpaku di sana. Pada deretan aksara yang menerbangkanku masuk ke dalam tulisan itu... Di sana tertulis betapa bahagianya si 'aku' ketika bertemu pertama kali dengan si 'dia'. Si 'dia' yang mampu membuat si 'aku' tertidur dengan wajah tersenyum sampai pagi.

Kubuka halaman keempat, kelima, dan seterusnya...
Tiba-tiba aku merasa diselimuti sesuatu. Suatu perasaan dingin yang menyebabkan sekujur tubuhku menggigil kedinginan. Rupanya aku diselimuti rindu yang teramat dalam... Padamu.

Setetes. Dua tetes...
Bukan air hujan.
Itulah yang biasa kau sebut dengan;
Airmata.


Dari 'A', untuk 'D'

Senin, 08 Oktober 2012

A place in your heart


“Matkul gak penting! Cabut aja deh gue!” ucapku pada Tata, sahabatku.
“Serius lo? Dosennya kan…”
“Halaaah, jatah absen gue masih ready stock kok!” aku berjalan cepat meninggalkan ruang kelas.

Keluar dari gedung VI, aku disambut dengan pemandangan mahasiswa-mahasiswa BIPA yang sedang asyik mengobrol, minum, bahkan merokok. Di antara mereka, aku melihat Seo Hyun—kenalanku di salah satu kelas—sedang melambaikan tangan ke arahku.

“Halo, Dara… Mau rokok?” dengan bahasa Indonesia yang belum terlalu lancar, ia menyodorkan sebatang rokok padaku.
“Terima kasih.” Jawabku sambil mengambil rokok itu dan menyimpannya di saku jaketku.
“Kamu cha-but ya pasti?” tanyanya.
Keningku mengkerut. Cha-but? Cabut? Astaga!
Aku menganggukkan kepala sambil terbahak-bahak.

Kami mengobrol tentang banyak hal. Dan tentu saja semua itu kulakukan hanya untuk membuang-buang waktu. Karena sebenarnya, aku sama sekali tidak berminat untuk berteman dengan lelaki bermata sipit ini. Tidak-sama-sekali.
Pasti Seo Hyun juga tidak benar-benar tulus berteman denganku.
Aku tidak peduli, karena semua laki-laki itu sama. Mereka ingin berteman denganku hanya karena wajahku yang keturunan Chinesse ini. Kebanyakan teman perempuanku berkata bahwa wajahku tidak sesuai dengan kepribadianku yang maskulin. Mereka malah ingin menukar wajahnya dengan wajahku. Ini gila.

“Gue balik ya. Thanks for the cigarette.” Ucapku sambil meninggalkan Soe Hyun, tanpa menunggu jawaban darinya.

Sambil menikmati semilir angin sore yang menerpa rambutku, lagu Michael Jackson - Heal The World, mengalun di telingaku.

There's a place in your heart
And I know that it is love
And this place could be much
Brighter than tomorrow.
And if you really try
You'll find there's no need to cry
In this place you'll feel
There's no hurt or sorrow.
There are ways to get there
If you care enough for the living…

Aku membakar rokok pemberian Seo Hyun. Apalah arti hidup damai? Batinku bertanya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia sepuluh tahun menarik perhatianku. Ia mengais sampah di sekitar Klaster, dan menemukan puntung rokok yang tinggal separuh. Tangannya bergerak cepat merogoh ke dalam saku celananya, mengambil korek api, membakarnya, dan kemudian dihirup dalam-dalam.



Lututku bergetar…

Bukankah anak sekecil itu harusnya tidak boleh menyentuh rokok? Apalagi… Merokok?

Beberapa detik kemudian, aku melemparkan benda yang mengapit di antara jari telunjuk dan jari tengahku itu ke danau di bawah jembatan Teksas. Membiarkannya bergabung bersama milyaran bakteri yang ada di dalam sana. Perasaan tak menentu meresap ke dalam jiwaku. Mengisi suatu tempat di dalam ragaku, bernama hati.

Sejak hari itu... Aku tak lagi mampu menyentuh sebatang rokok pun. 

Jumat, 05 Oktober 2012

Sebuah penantian


Selamat malam, harapanku. Yang masih tersimpan rapi dalam benakku. Tak pernah lagi aku usik kehadiranmu meski semua terasa semu.
Bulan itu meledekku. Ia bilang, kau tak akan kembali lagi ke sini. Aku marah padanya. Kututup jendela kamarku agar ia berhenti meledekku. Kau pasti kembali kan?

-

Selamat pagi, bidadariku. Satu tahun sudah kita tak bertemu. Tak adakah puing-puing rindu yang tersisa untukku? Padahal rinduku disini sudah menggunung dan membatu. Untung, pagi ini matahari tak mengejekku. Aku masih mampu tersenyum menghadapi dunia. Karena aku tahu, kau di sana juga merindukanku, kan?

-

Selamat malam, bintangku. Mengapa kau tampak banyak sekali muncul di langit malam ini? Aku tak mampu lagi membedakanmu dengan cahaya dari pesawat terbang yang kebetulan melintas. Semakin hari, kau semakin sulit kutemukan…

-

Selamat pagi, penantianku. Ini ulang tahunku yang ke-40. Tidakkah kau mengucapkannya padaku? Padahal aku terbangun tengah malam hanya untuk berharap bahwa handphone-ku menerima pesan ucapan darimu. Ah, tak apa. Mungkin kau sibuk. Selamat ulang tahun, aku.

-

Selamat malam, kamu. Malam ini aku sedang memeluk erat selembar koran. Terbitan dua puluh tahun yang lalu. Di sana tercetak jelas deretan huruf yang membuatku tetap bertahan selama ini.

“SEBUAH PESAWAT JATUH DI GUNUNG SALAK. Korban belum teridentifikasi...”

Di balik deretan buku



Semilir angin mengantarkan halusinasi senyummu di kepalaku. Berkeliaran… Dan selamanya menetap tinggal di sana. Pertemuan yang tidak pernah kita rencanakan itu berakibat fatal pada hatiku.

Pertemuan empat tahun silam…

“Lihat pembatas buku gambar panda gitu gak, Pak?” tanyaku pada penjaga perpustakaan di kampusku.
“Waduh, nggak ada tuh, Mas.”

Aku panik. Pembatas buku kesayanganku… Tanpa pembatas itu, mungkin semangat membacaku akan menurun drastis. Itu adalah hadiah dari sahabatku yang kini tinggal di Jogja.

“Maaf, kamu mencari ini?”

Telingaku mencari sumber suara itu. Mataku terpaku. Bibirku mengatup bisu. Dan jangtungku… Berdegup tak normal.

“Oh, i…ya… Makasih.” Jawabku grogi.

Ia tersenyum. Memaksaku untuk mereka tiap detail senyumnya. Gerakannya, matanya yang teduh…
Kemudian aku divonis oleh dewa-dewi cinta. Menderita penyakit asmara stadium akut.

***

Kita masih bertemu. Di tempat yang sama. Hanya saja, matamu kali ini berbeda. Banjir. Kau terisak di pelukan sahabatmu.

“Aku mungkin tidak akan pernah jatuh cinta lagi…” katamu, lirih.

Ingin rasanya detik itu juga, aku berlari menghampirimu. Memberi pelukan senyaman mungkin, kemudian berkata, “Aku ada untukmu.”
Namun, itu hanya dunia khayalku.
Aku masih berdiri di sini. Beberapa meter dari posisimu. Bersembunyi di antara rak-rak buku untuk menutupi diri yang tak pernah berani menyapamu lagi. Bahkan hanya untuk sekadar mengulurkan tangan agar airmatamu tak membasahi pipi yang merah itu... Ah, tidak. Aku akan tetap menjadi pengamat di balik deretan buku-buku ini.

Aku, kamu...


Hujan sore itu menjadi pengantar rindu yang tak bertuan. Aku berdiri di tepi koridor penghubung antara gedung V dan gedung VI. Mengamati butir-butir air yang menjatuhkan dirinya pada hamparan rumput yang merindukan mereka. Adakah diriku seperti itu?

“Ran!” sebuah suara menghempaskanku dari dunia imajinasiku.
Aku menoleh, mencari sumber suara. DEG! Senyuman itu…
“Hey, kok melamun sambil memperhatikan hujan gitu? Nanti galau loh…” Danar terkikik.
Sebuah cubitan dariku mendarat di pinggangnya.
“Aku sih nggak pernah galau tuh.” Jawabku bohong.
Danar kembali terkikik sambil mengarahkan matanya padaku. Yang benar saja? Aku pasti bermimpi!

Aku harus kembali merapikan hatiku setiap kali bertemu denganmu. Menyadari bahwa hanya aku yang merasakan adanya atmosfer yang berbeda antara aku dan dirimu. Bahwa aku hanyalah…

“Ayo pulang, hujannya sudah mulai reda nih.” Katanya sambil menengadahkan tangan di bawah langit.
“Dingin…”
Terbesit kilat khawatir pada bola matanya. Kemudian Danar melepas jaket yang dikenakannya. Untukku?
“Pakai ini.” katanya singkat dan hangat.
Aku tak bergeming. Menatap tak percaya ke arahnya.
“Lama amat ngeliatinnya. Sini deh dipakein…”
Gerakannya cepat dan lembut.
“Ng… Makasih…”
“Iya. Ayo pulang.”

Gerimis melanda hatiku. Bahagia bercampur pilu… Kurapatkan jaketnya pada tubuhku.

***

“Selamat ya, semoga langgeng! Doain gue nyusul. Hahaha…” seorang lelaki menggenggam erat tangannya.

Aku masih berdiri manis di sampingnya. Mengenakan sebuah gaun berwarna biru laut yang ia pilihkan untukku. Katanya, aku tampak lebih anggun jika memakai gaun ini. Sambil menjaga senyum yang tetap menghias bibir, aku menggandeng lengannya.

“Ran, lihat dia…” tetiba matanya terpaku pada satu titik. Wanita itu…

Terlalu cantik untuk sekadar disebut “cantik”. Terlalu anggun untuk diumpamakan hanya sebagai bidadari. Gaunnya sederhana, namun jelas mengalahkan gaun biru laut yang aku kenakan.
Mata mereka bertemu. Aku menatapnya dengan luka yang menganga, lalu aku paksa untuk sembuh.

“Cieee, selamat ya, Danar!” aku memasang wajah semanis mungkin.
“Panggilnya ‘Mas Danar’ dong! Masa udah tunangan gini masih aja gak sopan sama sepupu sendiri…”

DEG. Sepupu… Aku… Kamu…

“Iya deh, Mas Danar…” kataku. Masih dengan senyum yang manis dan... Dipaksakan.

Rabu, 03 Oktober 2012

Pertama--Keempat


Tahun pertama... Tanpa kehadiranmu.
Bulan itu memancarkan pesonanya yang tak pernah membuatku jengah. Di tengah kegelapan malam, aku tampak seperti wanita gila yang memandang langit melalui jendela kamarnya, kemudian beberapa detik kemudian tersenyum sambil terisak. Aku tersenyum dalam tangisku.
Senyummu yang biasa menjadi penghangatku setiap hari, kini menjadi balok es yang siap menghujam jantungku setiap saat. Membekukan jemari tanganku yang terbalut cincin berlian di jari manisnya. Aku membunuh diriku sendiri saat aku mengatakan, “Pergilah… Australia memang tampak jauh bila dibandingkan dengan jarak yang ada di hati kita.”

***

Tahun kedua… Tanpa kehadiranmu.
Aku masih terisak dalam senyumku setiap kali memandang bulan purnama. Aku tahu, kita masih memandang pada bulan yang sama, meskipun pada waktu yang berbeda. Kita masih tinggal dalam satu planet yang sama, meskipun raga terpaut dalam bilangan ratusan kilometer.
Senyummu pada setiap foto yang kau kirimkan padaku… Sungguh membunuhku. Ingin rasanya aku masuk ke dalam layar handphone-ku saat fotomu terpampang jelas di sana. Masuk, dan memelukmu erat. Erat… Sekali.
Apa kabarmu?

***

Tahun ketiga… Tanpa kehadiranmu.
Rinduku menggunung. Mengkristal dalam lapisan hati yang kusimpan rapat-rapat. Tak bisakah kau mengabariku meski hanya seminggu sekali? Apa susahnya mengirim e-mail di negaramu yang sudah super canggih itu?

***

Tahun keempat… Tanpa kehadiranmu.
Kau kembali. Dengan cincin yang tak lagi sama. Dan sesosok wanita tengah melingkarkan lengannya yang putih pada pinggangmu. Aku terpaku. Rupanya penantianku selama ini… Tak berarti lagi.

Sebuah gambar

Mata ini mungkin masih mampu berdusta. Ketika aku mengarahkan pandanganku untuk menjauh darimu. Ketika mataku menahan airmata ketika kau tertawa renyah di hadapanku… Namun, harus kau ketahui. Hati ini tidak mampu dan tidak akan pernah berdusta. Tidak pernah.

***

“Gambar lo bagus banget, Fi!” sosoknya tiba-tiba muncul dari balik punggungku.
Aku gugup. Spontan, aku langsung menutupi gambar itu dengan kedua tanganku.
“Sini liat dong! Eh, kok gambar ceweknya sedih gitu?”
“Eh… Eng… Nggak kok! Apaan sih? Udah sana jangan liat-liat gambar gue!” aku menepis tangannya yang berusaha merebut gambarku. Butir-butir air mulai mengumpul di kedua pelupuk mataku.
Berlari.
Aku meninggalkannya dan berlari… Entah menuju kemana. Aku ingin pergi darinya. Pergi dari kenyataan bahwa sosok lelaki yang selalu muncul dalam gambarku ini adalah sosok yang semu. Aku masih terus berlari…

***

Sebulan yang lalu…
Aku menggambar untuknya. Di hari ulang tahunnya ini, aku telah mempersiapkan sebuah gambar terbaik yang telah aku selesaikan dari hasil begadang selama seminggu penuh. Gambar itu sederhana. Hanya seorang anak lelaki dengan balon berwarna putih di tangannya, dan seorang perempuan yang memegang balon berwarna-warni.
Aku hampir menyerahkan gambar itu kepadanya. Jika saja, aku lebih cepat beberapa menit dari gadis itu.
Sesosok gadis yang selalu kau ceritakan dengan mata penuh cinta kepadaku. Tentang sifatnya, tentang gayanya, tentang senyumnya yang tak bisa membuatmu tidur selama berminggu-minggu…
Ya, aku terlambat.

“Selamat ya, sayang…” gadis itu menyerahkan sebuah kotak berwarna merah dan berpita cokelat.

Aku mundur. Selangkah. Dua langkah. Kemudian mengambil jalur putar arah agar kau tak mampu lagi melihatku meski dalam gelap. Aku mengubah segalanya menjadi lebih buruk. Aku menghindarimu, tak lagi mendengarkan ceritamu, dan tak lagi peduli pada kehadiranmu.
Sayangnya, kau tak mengerti itu. Kau tetap menganggapku adalah sahabat terbaikmu sepanjang masa. Tetap menemaniku saat aku duduk termenung di kantin, saat aku keluar kelas dan kau tiba-tiba muncul di depan hidungku…
Tidakkah kau mengerti? Semua ini. Semuanya terasa pupus. Kau tidak membunuh perasaanku, namun justru menyuburkan cinta di hatiku. Aku yang setengah mati berusaha membunuhnya, kemudian memilih pasrah. Ya, aku-hanya-sahabat-terbaikmu-sepanjang-masa.

Sabtu, 08 September 2012

Mas Reno


Semua berlalu begitu cepat. Tanpa ada perkenalan, tanpa sempat sebuah sapaan terucap, tanpa tatapan mata yang bertemu…
Aku pagi dan kamu senja. Kita tidak akan pernah bertemu. Hanya saling meninggalkan jejak-jejak kepergian masing-masing, yang kemudian aku kumpulkan menjadi sebuah perjalanan panjang menuju padang rumput hatimu, Reno Abdurrahman.
***
Siang itu, secara tak sengaja mataku menangkap sosokmu diantara kerumunan mahasiswa di kantin. Seperti biasa, mengagumkan.
“Gue belom ngerjain tugas nih! Mati aja ini, mana dosen killer pula!” ujarmu sambil menggaruk kepalamu yang pasti tidak gatal.
Hanya dua kalimat itu yang kudengar darimu. Selanjutnya, aku sudah pergi menjauh dari kantin. Aku tak ingin merekam sosokmu lebih lama lagi dalam memori ingatanku. Cukup. Sudah terlalu banyak yang terekam di kepalaku…
“Shabira?” seseorang menyapaku.
“Fajar?”
“Iya! Wah kuliah disini juga? Asiiik barengan deh hahaha”
“Iya ya… Ternyata barengan la...” kalimatku terputus. Kau berdiri tepat di samping Fajar.
“Jar, ayo futsal sekarang. Udah ditungguin anak-anak tuh!” katamu.
Fajar menganggukkan kepala mantap.
“Sorry banget ya, Ra. Gue duluan ya…” ujar Fajar.
“Oh, iya nggak papa kok.” Balasku sambil mencuri pandang ke arahmu.
Mereka melangkah menjauhiku. Yang aku tahu, kau tidak melihat atau bahkan menyapaku sama sekali. Apa kau pikir, aku ini adalah angin lewat?
***
“Saya terima nikahnya Shabira Amalia binti Abdul Karim dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar empat juta rupiah, dibayar tunai…”
Dua orang saksi secara hampir berbarengan mengucapkan kata “Sah!”.
Aku mengecup punggung tanganmu.
Aku menitikkan air mata. Jodoh adalah misteri Tuhan, Mas Reno…

Jumat, 07 September 2012

Pantai Senja

Debur ombak memecah lamunanku tentangmu. Semua terlihat semu, kecuali kepergianmu. Ya, kepergianmu begitu nyata untukku. Tidakkah kau menyadarinya?

***

Jakarta, 5 tahun silam...

Hembusan nafasmu terasa di rambutku. Hujan mempertemukan kita dalam sebuah perjalanan yang tidak biasa.
"Kamu pulang ke arah mana?" suaranya memecah keheningan.
Ke hatimu boleh?
"Perumahan Pelangi, kamu?"
"Aku di jalan pasaribu. Wah nggak terlalu jauh loh jarak rumah kita. Kapan-kapan main, yuk?"
DEG. Tentu saja! Ayo main!
"Kalau ada waktu, kita ketemuan aja. Dimana ya?"
"Pantai Senja?"
Pantai Senja? Dimana itu?
"Kamu tidak tahu Pantai Senja?"
Aku menggeleng penasaran.
"Hahaha... Baiklah, besok aku tunggu di depan Perumahan Pelangi, ya. Jam 3 sore. Bisa?"
DEG. Aku mengangguk sambil tersenyum. Kurasakan pipiku memanas.
"Oke, sampai jumpa besok, Clara..." ia melambaikan tangan padaku.
Aku mengamati pergerakan langkah kakinya. Punggungnya menghilang di balik kendaraan yang melintas.
Pantai Senja. Nama tempat itu menghantuiku sepanjang malam.

***

Tepat 2 menit sebelum waktu yang kau janjikan. Kau tak kunjung datang.
Mungkin beberapa menit lagi, pikirku.

***

Aku berjalan dengan berpayung hujan. Tak ada yang mampu menggambarkan kekecewaanku padamu saat itu. Tidak ada. Kau benar-benar menghancurkan segalanya. Kau tidak menepati janjimu. Kau menghilang. Benar-benar menghilang...

***

Hari ini, aku berdiri di bibir Pantai Senja. Seorang lelaki duduk disampingku, tengah bermain membangun kastil pasir bersama anak laki-lakinya.
Aku menghembuskan napas perlahan. Aku telah menemukan Pantai Senja, Dion...
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Dan aku tidak cukup bodoh untuk menunggumu disini, dengan berbekal harapan kosong darimu.
Pandanganku tertuju pada sang bocah laki-laki yang tengah asyik dengan ember berisi pasirnya. Ia pun tersenyum lugu, "Bunda mau ikut main pasir?"