Jumat, 26 Oktober 2012

Puisimu, Puisiku

Di bawah sinar rembulan
temui aku di pintu hatimu
dan sang rembulan akan menatap iri pada kita
kemudian, bintang-bintang semakin terang
menyinari langit malam
kau dan aku
saling bertukar sapa melalui tatapan mata
rindumu terbaca, sayang.


Puisi berantai perdana, tercipta di malam hari yang sunyi.

Untitled

Bagian dalam hidupku yang mana lagi yang tidak sesuai dengan
ideologimu? Haruskah aku mendengar dan mengubah apa yang telah
kuyakini benar, hanya demi sebuah kehormatan?
Omong kosong dengan semua itu. Tak kupahami, apa yang telah merasuk ke
dalam pikiranmu? Merasa menjadi makhluk Maha Benar di alam semesta?
Aku memiliki jalur hidupku sendiri yang tak perlu repot-repot kau
banjiri dengan berbagai komentar.


"...Mereka terlahir melalui engkau, tetapi bukan darimu
meskipun mereka ada bersamamu, mereka bukan milikmu
pada mereka, engkau dapat memberikan cintamu, tetapi bukan pikiranmu
karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri..."
-Kahlil Ghibran-

Kamis, 25 Oktober 2012

Dunia Perkuliahan di Mata Saya

Tanpa terasa, UTS sudah mendatangi gue satu per satu. Gue sebagai mahasiswi baru yang masih unyu polos serta lucu ini, hanya dapat berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melewati semua "cobaan" dari kampus ini.

Sastra Indonesia.
"Paling mentok-mentok jadi guru!"
Gue paling benci kata-kata itu. TERUS? Kalau gue jadi guru, artinya itu udah kepentok? Cih.

Setiap orang punya pilihan, ada yang memang terlahir dengan memiliki bakat mencintai dunia pendidikan (pastinya bukan gue), bakat memasak, bakat jahil, bakat melawak, dan... Bakat menulis.

Eitss, menulis? Bakat?
Hmm, sebenarnya nggak juga.
Menulis bukan bakat, tetapi tekad. Ya, kalau lo memiliki tekad yang kuat untuk menulis, juga nggak pernah menyerah untuk selalu menulis, menulis, menulis... Pasti bisa!

Di sini, gue mau berbagi cerita tentang dunia perkuliahan yang... Keras! *gigit-gigit batok kelapa*
Ini serius, ya. *benerin posisi duduk*

Ketika lo diterima di PTN, pasti rasa bangga langsung menyelimuti lo dan sekeluarga besar lo. Nggak masalah.
Ketika lo mulai dihadapkan dengan kegiatan ospek, pasti berbagai keluhan mulai datang. "Gue belum mandi dari pagi sampe malem, disuruh nyebur danau, make up luntur... OMG!"
Ketika lo dihadapkan dengan....... *jeng-jeng-jeng*
KULIAH YANG SEBENARNYA.
Seakan di pintu masuk kampus lo terpampang baliho raksasa bertuliskan:

"Welcome to the jungle!"

Ini fakta, Bung.
Jangan harap, kalau lo telat, bakal ada yang menghukum lo lari keliling lapangan terus baru diizinin masuk kelas.
Jangan harap.
Lo telat masuk kelas pas kuliah? Hanya ada dua pilihan.
Pertama, dosennya emang lagi baik dan lo diizinin masuk biarpun udah telat 2 jam. Kedua, lo gak dibukain pintu. Selesai.

Pas udah kuliah, lo mau ke kampus dengan baju paling gembel yang lo punya, sepatu paling butut, maupun rambut yang udah kayak Wiro Sableng sekalipun... Nggak ada yang akan marahin lo. Di sini nggak ada guru BK, cuy.

Bukan cuma sekadar itu. Yang paling terlihat di sini adalah pergaulannya.
Pertama kali, gue shock parah dengan banyaknya mahasiswi yang ngerokok. Secara, di fakultas gue itu nggak termasuk kawasan bebas asap rokok. Lama-lama gue mulai ngerti kenapa mereka yang notabene adalah perempuan, memilih merokok sebagai jalan hidupnya.
Pergaulan, Bro.
Suka nongkrong, ngobrol-ngobrol, ditawarin ini, itu... Dan, BLAM!
Semudah itu.

Gue bukanlah mahasiswi yang niat kuliah cuma untuk belajar doang. Tapi gue juga bukan mahasiswi yang niat kuliah cuma sekadar untuk organisasi, nongkrong, dll.
Gue pengen bisa seimbang di antara keduanya.
Karena gue masuk jurusan ini atas pilihan gue sendiri, maka gue juga udah memperhitungkan segalanya dengan lumayan baik. Ilmu yang gue dapat di kuliah ini, akan sangat sangat membantu kehidupan dunia kepenulisan gue. Di sini, gue juga dapet kenalan banyak teman yang bisa "searah" sama gue. Gabung di komunitas menulis dan komunitas sastra.
Setiap orang memiliki jalannya masing-masing, nggak ada yang bisa maksa diri lo kecuali hati kecil lo sendiri.

Semoga tulisan gue ini bermanfaat untuk kalian-kalian yang akan masuk ke dunia perkuliahan.
Good luck, ya! Semangat belajar :)

Salam unyu,

Dhilla,  mahasiswi Prodi Indonesia UI 2012

Anniversary

Dinginnya hembusan angin malam tak menyurutkan niatku untuk menemuimu
malam ini. Aku terlanjur menumpuk rindu ini hingga membatu dan tak
mudah dihancurkan. Kau, alasan sederhana dibalik kerinduan ini.

Tidak ada pertemuan yang terencana. Namun, aku yakin malam ini kau
akan datang ke tempat ini. Tempat yang telah menjadi saksi sejarah
hubungan dua orang manusia yang saling mencinta dan memuja keindahan
tempat ini.

Ah, benar saja. Kulihat seorang pria berkacamata yang berkumis tipis
turun dari sepeda motornya. Itu... Kau. Aku mengucek mata untuk
memastikannya. Benar. Kamu datang malam ini.

Kamu mengambil posisi duduk menghadap ke arah laut. Itu adalah tempat
favorit kita, bukan?
Kemudian kamu mengeluarkan satu buket bunga lily dari dalam tas
jinjingmu. Kamu memandanginya lekat sambil tersenyum tipis. Apakah...
Itu untukku? Kini aku mulai salah tingkah.

Ya, aku tahu malam ini kau akan datang. Setiap tahun, di tanggal yang
sama. Kau selalu setia menikmati debur ombak di malam hari, menikmati
semilir angin yang menerpa wajahmu... Ah, rinduku mulai terobati,
Sayang.

Baru saja aku ingin menghampirimu, sebelum akhirnya seorang wanita
yang tampak anggun dengan dress-nya yang berwarna putih sudah terlebih
dahulu melambaikan tangan ke arahmu.
Siapa dia?

"Kau cantik sekali malam ini, Ly..." ucapmu, sambil menyerahkan buket
bunga yang telah kau siapkan.
"Terima kasih, Mas. Bunga ini indah sekali." wanita itu memandang
kagum pada rangkaian bunga yang ada di tangannya.

Aku belum mengerti. Bukankah selama ini... Kamu selalu datang sendiri
di tanggal pernikahan kita?

"Mbak Nia pasti bahagia pernah memiliki suami sepertimu, Mas." bisik wanita itu.
"Ya, dan sekarang dia juga akan bahagia melihat ada wanita yang
mencintaiku setulus cintanya." katamu, sambil meraih jemari wanita itu
dan kau genggam dengan erat.

Bahagia?
Aku mencoba merapikan harapan-harapan yang telah terangkai. Aku
terisak sambil menuju ke arah laut. Menghilang di antara deburan ombak
yang membisu.

"Ly, kamu lihat itu?!"
"Apa, Mas?"
"Sesosok bayangan mirip almarhumah istriku."

Rabu, 24 Oktober 2012

Kicauan 140 Karakter


Siapa yang tidak mengenal Twitter? Sebuah situs microblogging yang menjamur di seluruh belahan dunia. Meskipun di situs ini tulisan kita dibatasi oleh 140 karakter, namun penggunanya terus meningkat seiring berkembangnya teknologi informasi. Twitter kini telah menjadi media sosial yang dikenal mulai dari kalangan remaja ABG hingga pejabat pemerintahan. Semua orang tidak ingin ketinggalan informasi yang fresh dari Twitter ini.

Pada awalnya, ide Twitter yaitu agar individu bisa menggunakan SMS layanan untuk berkomunikasi dengan kelompok yang lebih kecil. Kemudian, popularitas Twitter mendongkrak pada tahun 2007, dalam festival South by Southwest (SXSW). Selama acara tersebut berlangsung, penggunaan Twitter meningkat dari 20.000 kicauan per hari menjadi 60.000. Reaksi pengguna Twitter di festival itu sangat positif.

Tulisan yang dipublikasikan melalui Twitter disebut tweet (kicauan). Kita dapat menulis opini, berita, pesan kepada orang lain, maupun menjadikannya sebagai buku harian online. Namun, setiap tweet terbatas pada 140 karakter, sehingga menuntut penggunanya untuk dapat memanfaatkan keterbatasan karakter tersebut seefektif mungkin. Bagi sebagian penggunanya, keterbatasan ini juga melatih penggunaan kalimat efektif dalam penulisan. Namun, hal ini juga menyebabkan penggunaan kata-kata yang disingkat, sehingga sering terjadi kesalahpahaman antara penulis dan pembaca.

Tweet seseorang bebas dipublikasikan dan dibaca oleh semua pengguna Twitter, kecuali jika si pengguna mem-protect akunnya, maka tweet-nya hanya akan dapat dilihat oleh followers-nya. Follower (pengikut) adalah akun orang lain yang menjadikan kita sebagai teman di Twitter. Sedangkan following adalah akun orang lain yang ingin kita jadikan sebagai teman. Jika jumlah followers-nya banyak, menunjukkan bahwa si penulis itu memiliki tweet yang berkualitas.

Karena dianggap lebih praktis dibandingkan dengan media jejaring sosial lainnya, maka Twitter lebih dipilih sebagai media komunikasi. Dapat kita ambil contoh, situs berita “Detik News” selain menggunakan blog sebagai tempat update berita terkini, juga memanfaatkan Twitter sebagai media penyampaian berita yang ter-update. Pejabat pemerintahan seperti Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika) juga tak ingin ketinggalan. Ia sering menuliskan berbagai informasi mengenai perkembangan teknologi dan informasi di akunnya tersebut.

Bagi Anda yang telah memiliki akun Twitter, istilah mention, retweet, dan direct message tentu sudah tidak asing lagi. Jika kita ingin menyampaikan pesan pada orang lain, cukup sertakan username orang tersebut dan Anda sudah mengirimkan mention kepadanya. Pesan ini akan dapat dibaca oleh seluruh followers Anda. Namun jika ingin mengirimkan pesan secara pribadi, Anda cukup mengirimkan direct message kepada orang tersebut. Selain dapat mengirim dan menerima pesan, Twitter juga memfasilitasi penggunanya dengan istilah retweet, yaitu mengopi tweet penulis lain, namun masih menyertakan akun penulis aslinya, sehingga tidak melanggar hak cipta sang penulis.

Twitter selain digunakan sebagai media komunikasi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana mengembangkan bakat dan minat. Jika Anda hobi menulis, Anda dapat berlatih menulis dengan Twitter. Karena “kicauan” Anda terbatas pada 140 karakter, maka Anda akan terbiasa menulis sesuatu dengan to the point, tanpa menghilangkan gagasan utama dari tulisan Anda tersebut. Di masa kini, Twitter juga kerap kali digunakan sebagai media online shop yang memposting foto barang-barang yang mereka jual.


Panggilan Untukmu

Namaku Gusti Pradana Mulya Kusumadiningrat. Kebanyakan orang memanggilku Gusti. Namun, tidak denganmu. Kamu selalu punya nama yang berbeda untukku.

Di awal perkenalan kita, kamu dengan santainya mengajukan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan.
"Kupanggil Gusgus saja, ya?"

Kemudian, pada pertemuan kita selanjutnya, kamu berkata bahwa nama Gusgus kurang enak didengar. Dan lagi, kau ajukan pertanyaan itu.
"Kupanggil Pradan saja, ya?"
Kali ini kubalas dengan anggukan kecil dan sebuah senyuman untukmu.
Kalau saja kau menyadarinya...

Namamu Ratu Anggita. Orang-orang sering memanggilmu Anggi. Namun, tidak denganku. Meskipun aku tetap memanggilmu "Anggi", hatiku punya nama spesial untukmu.
Ratu. Ya, kamulah ratu penguasa hati dan pikiranku.

Pada suatu senja di sebuah kafe kecil di kawasan Depok, kita sedang menikmati kebersamaan dalam diam. Kemudian, suaramu yang merdu memecah dinding kekakuan di antara kita.

"Pradan, apa kamu tidak suka dengan nama panggilan dariku?"
"Suka kok. Kenapa, Nggi?"
"Mm... Gak papa sih." jawabmu ragu.

Aku bisa membaca matamu yang gugup saat berbicara padaku. Mungkin, begitupun dengan aku. Beberapa menit berlalu dalam diam. Kamu sedang memainkan sedotan di dalam gelas jus milikmu.
Kurogoh saku celanaku. Sebuah kotak kecil berwarna merah tampak begitu berat bagiku.

"Nggi..." panggilku.
"Ya?"
"Aku punya nama panggilan baru untukmu. Tapi, itu kalau kamu mengizinkannya..."
"Apa?" tanyamu, antusias sekali.

Tanpa ragu, kutunjukkan kotak kecil berisi sepasang cincin indah itu.

"Aku ingin memanggilmu... Istriku." ucapku, mantap.

Kamu terpaku. Matamu tampak berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian, jari-jari lentikmu sudah berada di sela-sela jemariku.
Aku menganggap itu sebagai jawaban.

Selasa, 23 Oktober 2012

Pergi


Asap kebencian
Menyeruak ke dalam paru-paru
Menembus rongga kehampaan
Dalam jiwa

Bertahan di antara
Ratusan, ribuan, jutaan
Bayangan semu tentang
Arti kehidupan

Kemudian aku memilih
Melayang; terbang
Tak terjangkau
Sekalipun oleh pelukanmu

Senin, 22 Oktober 2012

Sebaris Pelangi

Aku menatap hampa pada sebaris pelangi yang berada di langit sore itu.
"Andai saat ini ada kamu di sampingku…" kataku, lirih.

Mataku menyapu seluruh taman ini. "Taman Cerita", katamu waktu itu.
Ya, tempat kita menghabiskan waktu selepas sekolah. Aku akan setia menatap matamu yang bersemangat itu dengan perasaan kagum. Dan kamu akan setia dengan cerita-ceritamu yang tidak pernah berganti sejak awal pertemuan kita, Si itik buruk rupa.

***

"Mengapa aku berbeda?" tanyamu di suatu pagi.
"Apa?" aku mengalihkan pandanganku dari novel yang sedang kubaca.
"Seperti itik itu, kenapa aku berbeda?"
Aku tertegun.
"Panji kenapa nanya begitu?" tanyaku kembali, sambil menatap matanya yang teduh.
Ia terdiam, kemudian kembali tenggelam dalam dunianya, sebuah buku berjudul "Si Itik Buruk Rupa".
Aku menghela napas. Panji memang selalu seperti itu…

***

"Aku tidak mengerti. Aku memang anak bodoh." katamu.
"Panji! Jangan bicara seperti itu!" bentakku.
"Aku tidak mengerti semua ini. Apa salahku? Mengapa ayah dan ibu membiarkan aku terlahir di dunia dengan keadaan seperti ini? Sedangkan kamu dan Citra, semuanya sempurna. Kalian bisa bersekolah dan berteman dengan siapa saja! Sedangkan aku…" suaramu tertahan.
"Cukup, Panji!!!"
Kau mundur beberapa langkah, kemudian berlari menjauhiku.
Dapat kurasakan mataku memanas dan air turun membasahi pipiku.

Panji, maaf…

***

Aku menghirup udara di dalam ruangan bernuansa putih itu. Bau obat-obatan menusuk hidung. Sedetik kemudian kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh jemariku.

"Kak…" bisikmu.
"Panji… Kakak di sini, sayang."
"Kak, aku mau pulang."
"Iya, sayang. Kalau Panji udah sembuh nanti kita pulang ya, kita ke Taman Cerita lagi, ngeliat pelangi sehabis hujan, terus beli mainan yang banyak buat Panji di pasar. Makanya, Panji cepat sembuh ya…" airmataku berjatuhan.

Kau tak menjawab, hanya tersenyum. Perlahan, matamu menutup. Kau kembali diam dan tak ada reaksi ketika kusentuh kepalamu yang bersih tanpa sehelai rambut pun.
Aku membalas senyummu, sambil menahan air yang telah membanjiri kedua pelupuk mataku.

Sejak saat itu, aku selalu menyimpan senyumnya di hatiku. Sebuah senyuman tulus dari seorang bocah penderita tumor kulit ganas…

***

Selamat jalan, Panji… Aku melambaikan tangan pada sebaris pelangi di sore itu.