Kamis, 08 November 2012
Selasa, 06 November 2012
Meragukan Tuhan
Suatu malam, aku mendengar dua orang temanku sedang bercakap-cakap.
A: "Ya Tuhan, besok UTS..."
B: "Heh, jangan dikit-dikit ngadu sama Tuhan!"
A: "Loh, kenapa?"
B: "Gak semua hal perlu lo aduin ke Tuhan."
A: "Oh... Gitu ya?"
B: "Iya, lo harus bisa nyelesain masalah sendiri."
Kemudian, aku berpikir. Jika pada Tuhan saja kita ragu, bagaimana
dengan sesama manusia?
A: "Ya Tuhan, besok UTS..."
B: "Heh, jangan dikit-dikit ngadu sama Tuhan!"
A: "Loh, kenapa?"
B: "Gak semua hal perlu lo aduin ke Tuhan."
A: "Oh... Gitu ya?"
B: "Iya, lo harus bisa nyelesain masalah sendiri."
Kemudian, aku berpikir. Jika pada Tuhan saja kita ragu, bagaimana
dengan sesama manusia?
Sabtu, 03 November 2012
Semangkuk Bubur Kacang Hijau
Tidak ada yang berani mengakhiri semua ini. Ketika kau
membisu selama seminggu ini. Ketika tak ada hal yang dapat kulakukan selain
menjagamu dengan sebaik mungkin…
“Kamu mau makan apa nanti malam?” tanyaku.
Tidak ada jawaban.
“Mas, mau makan apa? Nanti aku masakin deh…”
“Nggak usah.” jawabmu. Singkat.
Aku tertegun. Marahkah
kau padaku?
Aku mencoba menghapus semua pikiran burukku. Aku bergegas
menuju dapur, ingin membuatkan sesuatu yang dapat menghangatkan perutmu di
malam yang dingin ini.
Semangkuk bubur kacang hijau. Akumenghirup aromanya sambil
tersenyum penuh harap. Semoga Mas Didit
suka…
Baru saja aku membalikkan tubuh, lelaki berkumis tipi situ sudah
berada tepat di hadapanku.
“Eh, Mas… Ini…”
“Mengapa kamu melakukan semua ini?” tanyamu.
“Aku? Apa, Mas?”
“Kamu tahu kan, aku berselingkuh dengan rekan kerjaku. Aku tahu
kau menangis di balik selimut ketika aku pulang. Aku tahu kau tak lagi menuntut
apa-apa dariku, bahkan hanya untuk sebuah pelukan. Kau tidak membutuhkanku
lagi?”
“Mas… Aku—“ tenggorokanku terasa nyeri.
“Aku telah memperlakukanmu dengan jahat. Jahat sekali. Kenapa
kau tidak membalasnya? Kenapa kau tetap membuatkanku bubur kacang hijau
kesukaanku?” matamu berkaca-kaca.
Aku gemetar. Kau tidak
jahat, Mas… Aku yang jahat…
“Rekan kerjamu itu adalah temanku. Aku menyuruhnya untuk
menggodamu. Aku ingin tahu seberapa besar kesetiaanmu padaku, Mas…” kataku
sambil terisak.
“Lalu?”
“Aku tahu kau tidak akan melakukan ini semua. Kau pasti
menolaknya. Kau tidak berselingkuh. Hanya aku yang meragukan kesetiaanmu, Mas.
Maafkan aku…”
Sesuatu yang hangat meraih pundakku. Memelukku erat dan
diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di keningku.
“Tidak perlu meminta maaf lagi. Lupakanlah semua itu.
Istriku tersayang, ayo kita habiskan semangkuk bubur kacang hijau ini. Berdua.”
sebuah senyum mengembang di bibirmu.
Aku mengangguk, meraih tangan kananmu. Hangat.
Aku tahu, tak seharusnya aku meragu pada lelaki yang
berhasil mengunci hatiku ini.
Undanganmu
Apa yang lebih rumit dari ini? Aku mencintaimu, kau tahu
itu. Matamu juga tak mampu menghindar ketika kutawarkan senyum terindah yang
kumiliki. Kau bilang, senyumku menjadi pelangi di langitmu yang kelabu.
Semua baik-baik saja, bahkan kita semakin dekat. Jarak bukanlah
suatu masalah, karena cinta dapat menembus batas-batas yang tak terjangkau oleh
manusia. Kita rutin bertemu di sebuah kafe kecil di kawasan Jakarta Selatan. Paling
tidak, sehari dalam seminggu, rinduku terobati. Kau adalah obat dari segala
penyakit hati yang kuderita.
Sore itu, aku memberanikan diri mencari sebuah kepastian
atas ikatan kita selama ini.
“Far, aku tidak mau lagi menunggu satu hari dalam seminggu
ini untuk menemuimu.” ujarku.
Kamu terkejut, “Maksudmu?”
Aku menunjukkan sebuah scrapbook
yang telah kubuat dengan perjuangan begadang selama dua minggu penuh. Di buku
itu berisi semua kenangan tentang pertemanan kita sejak awal SMA. Foto ketika
kau dihukum karena membantah ketika MOS, tiket bioskop yang kita tonton saat kenaikan
kelas 3 SMA, catatan-catatan serta puisiku yang semuanya ditujukan untukmu.
“Rey…” bisikmu. Matamu berkaca-kaca ketika menutup scrapbook itu.
“Jadi, Farah… Apakah kamu mau—“
“Rey, aku sudah dilamar. Bulan depan aku akan menikah,”
seketika airmata menetes di kedua pipimu.
Aku tidak sakit. Tidak. Aku hanya… Mati rasa.
“Datanglah. Maafkan aku…” katamu, lirih. Sebuah undangan
berwarna abu-abu tergeletak di hadapanku.
Ya, abu-abu. Tidak hitam, tidak pula putih. Tidak sakit,
tidak pula bahagia. Aku menggantungkan perasaanku pada langit senja yang
menawan.
Aku terlambat.
Perpustakaan Punya Cerita
Kamu lagi.
Mengamati deretan buku-buku itu.
Seperti hendak mencari sebuah
buku
Mungkin yang kamu cari
Tidak ada di situ
Melainkan
di genggamanku
Ini aku (lagi)
yang hanya berani
Menyelinap di balik
deretan buku-buku
Mengagumimu
sesederhana itu.
Mengamati deretan buku-buku itu.
Seperti hendak mencari sebuah
buku
Mungkin yang kamu cari
Tidak ada di situ
Melainkan
di genggamanku
Ini aku (lagi)
yang hanya berani
Menyelinap di balik
deretan buku-buku
Mengagumimu
sesederhana itu.
Jatuh Cinta
Ada sesuatu yang kau ucapkan dengan polos. Aku menutup mulut, menahan tawa yang hendak meledak. Kamu menatapku; memasang wajah kebingungan dengan mengernyitkan kedua alismu.
Ternyata jatuh cinta itu sesederhana ini...
Ternyata jatuh cinta itu sesederhana ini...
Kamis, 01 November 2012
Pengkhianatan Sederhana
Pagi ini, harusnya aku menerima sebuah ucapan selamat pagi
dan secangkir teh manis hangat darimu
sementara kamu menyiapkan sarapan untukku,
mataku akan terpaku memandangi lengkung bibirmu
sepasang mata yang teduh
lalu tersajilah sepiring nasi goreng sederhana buatanmu
tanpa bumbu penyedap
yang terasa nikmat karena cinta
Siang ini, harusnya kamu meneleponku
sekadar bertanya tentang pekerjaanku
sudahkah aku makan siang
atau bercerita tentang hal konyol yang berujung pada kalimat:
aku mencintaimu
Sore ini, harusnya kamu membukakan pintu rumah untukku
menyambut dengan sebuah kecupan lembut di punggung tanganku
dan kemudian lelahku sirna
setelah meneguk segelas es sirup buatanmu
yang sederhana
es sirup rasa cinta
Malam ini, harusnya kamu menyandarkan kepalamu di bahuku
menikmati semilir angin malam
di teras rumah kita
yang sederhana
beratap kesetiaan
berdinding kasih sayang
lalu, sayup-sayup kamu mulai bernyanyi
mengantarkanku pada dunia yang penuh kedamaian
dan arti "selamanya" bersamamu
Ya, seharusnya seperti itu
sebelum kamu melihat seorang lelaki
sedang memelukku
mengecup keningku
dan sejak saat itu
kamu tidak kembali pulang
ke rumah kita
yang sederhana
dan secangkir teh manis hangat darimu
sementara kamu menyiapkan sarapan untukku,
mataku akan terpaku memandangi lengkung bibirmu
sepasang mata yang teduh
lalu tersajilah sepiring nasi goreng sederhana buatanmu
tanpa bumbu penyedap
yang terasa nikmat karena cinta
Siang ini, harusnya kamu meneleponku
sekadar bertanya tentang pekerjaanku
sudahkah aku makan siang
atau bercerita tentang hal konyol yang berujung pada kalimat:
aku mencintaimu
Sore ini, harusnya kamu membukakan pintu rumah untukku
menyambut dengan sebuah kecupan lembut di punggung tanganku
dan kemudian lelahku sirna
setelah meneguk segelas es sirup buatanmu
yang sederhana
es sirup rasa cinta
Malam ini, harusnya kamu menyandarkan kepalamu di bahuku
menikmati semilir angin malam
di teras rumah kita
yang sederhana
beratap kesetiaan
berdinding kasih sayang
lalu, sayup-sayup kamu mulai bernyanyi
mengantarkanku pada dunia yang penuh kedamaian
dan arti "selamanya" bersamamu
Ya, seharusnya seperti itu
sebelum kamu melihat seorang lelaki
sedang memelukku
mengecup keningku
dan sejak saat itu
kamu tidak kembali pulang
ke rumah kita
yang sederhana
Langganan:
Postingan (Atom)