Kamis, 31 Januari 2013

Dewi Lestari - Back To Heaven's Light

"...If once we had decided to forget, then we alone can decide to remember. We all started the same journey. This had been an illusion of a journey, for it didn't have a start and didn't have an end."


Will We Meet Again?

"When you missing someone and there's nothing you can do with it..."

Saya tidak sepatutnya seperti ini. Namun, semua masih begitu jelas dalam ingatan saya. Keadaan ini diperparah dengan kehadiran kamu di dalam mimpi saya. Kenapa?
Kenapa kamu hadir lagi?
Saya benar-benar tidak bisa melakukan apa pun selain menolak perasaan itu. Saya tahu saya harus menjauh.

"Jika suatu saat kita bertemu lagi..."

Entah. Mungkin itu hanya untaian kalimat dari seseorang yang terlalu berekspetasi pada masa depan. Atau untuk orang-orang yang percaya akan adanya keajaiban. Saya tidak tahu. Yang jelas, Allah pasti telah menyiapkan jalan yang terbaik untuk kita. Pun persoalan pertemuan kita di masa yang akan datang...

Allah works in His mysterious way...

Rabu, 30 Januari 2013

Kedap Suara

menjerit
berteriak
memaki
memuji
tertawa
menangis
berharap didengar
meski nyatanya:
tidak.
aku di sini
mengurung diri
tak dipedulikan
dalam ruang
kedap suara

Senin, 28 Januari 2013

Kalian...

Kebersamaan yang tercipta secara terus menerus dapat menimbulkan perasaan lain yang tumbuh begitu saja di dalam hati manusia. Cinta? Sayang?
Meskipun tidak dapat dipungkiri, hal itu biasa terjadi pada kisah cinta di antara dua orang makhluk ciptaan Tuhan. Namun, yang saya rasakan kali ini sungguh berbeda. Merasa pulang, berada di rumah, berani melepaskan jiwa yang terkekang. Merasa hidup. Merasa berarti.
Persahabatan itu sederhana.
Sesederhana kebahagiaan yang tiba-tiba ada di antara kita. Tawa lepas yang menggelitik telinga, tingkah laku unik, senyum tulus yang merekah dari bibir mereka...


Lucu.
Dulu, saya sempat berpikir bahwa persahabatan sejati hanya ada di dalam film maupun novel. Tidak ada yang berwujud nyata. Apalagi ditambah dengan pengalaman-pengalaman bersahabat saya. Mungkin saya sempat merasa sangat-sangat dekat dengan beberapa orang, lalu men-judge mereka sebagai sahabat. Karena perasaan nyaman itu.
Selang beberapa waktu kemudian, setelah berbeda sekolah dan jarang berkomunikasi, kami pun merenggang. Kehilangan. Lalu, proses pencarian sahabat-dalam-arti-sesungguhnya pun terus berlanjut.
Memasuki fase remaja, beberapa dari sahabat itu mulai muncul ke permukaan. Radarku pun menangkap sinyal-sinyal kecocokan dengan mereka. Pertemuan-pertemuan dan kebersamaan yang terangkai baik secara disengaja maupun tidak disengaja telah menguatkan kami ber-18.
Ya, kami sempat berbangga dengan keluarga baru kami: TAPE
Pasca-kelulusan dari 'masa putih abu-abu', ketakutan itu sempat muncul lagi. Akankah kehilangan lagi? Mencari lagi? Ataukah mampu bertahan hingga... batas-waktu-yang-tidak-dapat-ditentukan?
Saya mengenyahkan pikiran buruk itu. Dan waktu terus berputar, menjawab teka-teki yang memang saya takutkan sejak awal kebersamaan kami.
Perlahan, satu per satu dari kami menjauh. Ada yang membentuk 'keluarga' baru di luar sana. Ada pula yang memilih individual. Entah, apakah saya, Jeje, Astri, dan Naila adalah sisa... atau justru yang termasuk menjauh juga.

"Jadi, tinggal segini?"

Life must go on.
Pekuliahan pun dimulai. Tentu saja kami semakin terpisah. Tidak ada satu pun di antara kami yang satu jurusan. Kalaupun ada, hanya satu fakultas. Akankah kembali merenggang?
Alhamdulillah, ternyata tidak.
Kami justru semakin melekat satu sama lain. Bahkan, saya akui. Saya tidak menemukan sahabat-sahabat seperti mereka di jurusan atau pun di fakultas saya. Saya lebih dekat dengan mereka, meskipun dengan pertemuan setiap dua minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Saya pun heran, dengan pertemuan yang jarang ini, hati kami tetap terpaut satu sama lain...
Erat.
Terima kasih kepada Astri, Jeje, Naila, dan Nita. Sahabat, keluarga, sekaligus separuh tulang rusuk—sebutan dari Nita—yang selalu ada, selalu setia. Saya tidak menginginkan kesempurnaan dalam persahabatan ini. Karena ketidaksempurnaan kita akan menyempurnakan satu sama lain.
Semoga bertahan sampai...
kita berada di surga nanti
bersama kembali.

Dari seorang yang kece...mutan, untuk para sahabat kece...pian.

Minggu, 27 Januari 2013

Still?

"...kadang, putus secara baik-baik itu menyiksa."

Chat dengan Astri


Ada

aku ada
jika kau ingin bicara
aku ada
jika kau ingin bercerita
tetapi jika kau memilih memendam
pun tak apa
aku tetap ada
mengamati gelisahmu
sendiri
tanpa perlu kau ketahui

Sabtu, 26 Januari 2013

Tertinggal

Sepagi ini, dan saya sudah merapikan kamar. Yaaa, meskipun saya tidak sedang jatuh cinta, tetapi apa salahnya merapikan kamar yang memang bentuknya sudah tidak karuan pascaliburan ini?

Dan ternyata, kepingan itu berawal dari sini.

Saya merapikan tumpukan tas yang letaknya di sebuah meja kecil di bawah cermin. Beberapa tas saya pisah, karena tidak semua tas layak pakai di sana. Ketika membongkar-bongkar isi tas, saya menemukan dompet yang sudah lama tidak tersentuh oleh saya. Iseng, saya pun membukanya.
Dan...
Beberapa potongan kertas menyembul dari salah satu bagian dompet. Saya mengambilnya dengan perasaan entah-sulit-dituliskan-di-sini.
  1. Dua buah tiket film "Perahu Kertas" di Detos. Sabtu, 18 Agustus 2012.
  2. Satu buah tiket film "Paranormal Activity 4" di Margo City. Minggu, 11 November 2012.
  3. Bill pembayaran di Zoe Restaurant. Sabtu, 18 Agustus 2012.
  4. Satu tiket masuk Museum Wayang, Kota Tua. Kamis, 14 Juni 2012.
  5. Dua buah tiket Trans-Jakarta. Kamis, 14 Juni 2012.
  6. Tanda bukti parkir motor di Ragunan pintu timur. Kamis, 14 Juni 2012.
  7. Sepotong kertas bertuliskan................*sensor*
Tanpa bermaksud mengusiknya lagi, saya segera memasukkannya kembali ke dalam dompet. Menutupnya rapat-rapat, berharap apa yang saya temukan tadi tidak terbawa ke dalam pikiran. Menghempaskannya jauh-jauh dan menguburnya kembali.
Saya tidak menyesal merapikan kamar pagi ini. Yang saya sesalkan adalah...

"Kenapa masih ada yang tertinggal... 'di sini'?"


Remember?

“Will you remember how we are? Will you stay with me when I try to be a better one for you in this new world?”

(Nadya Fatira - A New World)