Kamis, 18 Oktober 2012

Kejutan

Aku menatap lelaki berjaket abu-abu itu berjalan melewati koridor Gedung I. Ganteng banget... kataku dalam hati.
Kemudian lelaki itu menyapa seorang teman laki-lakinya.
"Hai, Beb..." katanya sambil memeluk lelaki itu.

Penyesalan

Ragaku berlindung di bawah payung Gedung I. Namun, jiwaku melayang
menelusuri setiap gedung dan koridor di fakultas ini.
Ah, kau ada di Kansas rupanya. Sedang tertawa bersama wanita yang
kemarin kau ceritakan padaku.
Tahu begitu, tak perlu kutinggalkan ragaku untuk mencarimu!

Minggu, 14 Oktober 2012

Empat belas ke-4

Hai, 14.
Ini baru yang ke-4. Harapanku sederhana...
Semoga kita selalu bersama di 14 selanjutnya, selanjutnya, dan selamanya. Amiin.

R♥F

Sabtu, 13 Oktober 2012

ACI & ICA


Aci sedang menjalani ritualnya. Mendatangi Kansas—Kantin Sastra—setiap selesai kelas. Ia mencari-cari sosok yang telah memenuhi inbox HP-nya selama kelas berlangsung tadi. Matanya langsung tertuju pada perempuan big size yang memakai kaus oblong bergambar Candi Borobudur. Beberapa langkah ia mendekati perempuan itu, dan langsung shock melihat piring-piring dan gelas telah ludes tanpa sisa di mejanya.

"Dua porsi ayam penyet, siomay, jus alpukat, es teh manis?! Dan... Lo mau kemana lagi?"
"Mesen es buah. Lo mau?" jawabnya dengan mulut yang masih dipenuhi jus alpukat.
"Sinting!" Aci melotot mendengar jawaban sahabatnya itu.
“Eh, yaudah pesenin gue juga! Dua porsi ya! Dan bayarin!” teriak Aci kemudian.
Kini gantian Ica yang melotot.

***

Ica tidak mengerti. Meskipun sama-sama penggila makanan, keduanya tak pernah benar-benar sama. Ica memandangi dirinya di cermin. Tubuhnya bulat bagaikan semangka. Lalu, ia melirik foto Aci di meja belajarnya. Langsing, bahkan dapat dikatakan kurus. Ica mengangkat alis. Bagaimana mungkin?

***

Tangan yang pucat dan gemetar itu berpegangan pada gagang pintu toilet di Gedung IX.
TES…
Setetes bercak merah menodai lantai toilet yang putih bersih itu.
TES… TES…
Ia tahu saat seperti ini akan tiba. Aci meraba bagian bawah hidungnya. Basah… dan merah. Kemudian gelap.

***

“Pulang yuk, Ca. Udah jam sembilan nih…” Dani membujuk perempuan di hadapannya.
Tak ada jawaban.
“Ca… Ayo…” Dani masih berusaha.
Tak ada tanggapan.

Dani menghela napas. Perempuan yang dicintainya ini masih saja seperti ini sejak tiga hari yang lalu. Mendatangi Kansas, duduk di kursi yang sama, kemudian berdiam diri dengan tatapan yang kosong, sesekali tersenyum, kemudian menangis tanpa suara.

Dani tidak tahu. Tiga hari yang lalu, Ica mematung di depan sebuah batu nisan.

Asih Maharani
binti
Hadi Purnomo
Lahir: 19-08-1992
Wafat: 19-08-2012

Ia memeluk erat sebuah kotak berwarna biru muda dengan pita cantik di sudutnya. Harusnya kamu melihat kado dariku ini, Ci. Selamat ulang tahun…Ica membiarkan dirinya terisak di atas tubuh sahabatnya yang sudah terkubur itu.

Sahabat Setia (A present for Zaenab Lubis)


Seorang perempuan berambut panjang melambaikan tangannya dari kejauhan. Aku pun berlari dan menyambutnya dengan pelukan hangat penuh rindu. Setelah pada malam sebelumnya aku bercerita keluh kesahku, ia mengajak untuk bertemu. Sekian lama tidak bertemu, penampilannya tidak banyak berubah. Perempuan berdarah Batak yang biasanya mengenakan sepatu itu, kini mengenakan sepasang sepatu sandal yang cantik. Mungkin ia ingin tampil lebih feminin.

Pertemuan kami siang itu membuatku mengenang persahabatan kami sejak awal SMA. Saat berkenalan dengannya, aku sama sekali tidak menyangka akan bersahabat dengan perempuan yang tampak cuek ini. Namun, dugaanku ternyata salah. Kesediaannya untuk mendengarkan curahan hatiku, sekaligus pemberi saran bagi masalah-masalah yang sedang kuhadapi, membuat kami akrab dan saling terikat dalam sebuah persahabatan.

Tiba-tiba aku terkikik melihat tingkahnya. Ia duduk bersila di atas sofa Perpustakaan Pusat UI sambil membaca sebuah buku dengan wajah yang polos. Ia memang selalu seperti itu. Tidak suka diatur dan sering berbuat konyol. Bahkan ia pernah pergi dari rumah tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Tindakannya itu membuatku panik, karena bagaimanapun juga, ia adalah seorang perempuan. Untung saja, ia kembali pulang setelah puas melepas emosinya dengan cara tersebut.

Meskipun di antara R4—nama geng yang beranggotakan aku, Jeje, Astri, dan Naila—hanya Jeje yang belum mendapat kesempatan berkuliah di UI, namun kami selalu memberi dukungan dan motivasi untuknya. Perempuan bernama lengkap Zaenab Lubis itu memang selalu ada. Di saat aku, Astri, dan Naila terjebak di sela-sela kesibukan kampus, ia dengan setia menanyakan kabar kami, bertanya apakah ada waktu luang untuk kami bisa bertemu. Sosok sederhana itu tak pernah berubah, ia selalu menjadi sandaran ketika aku gundah, selalu memiliki tangan yang menghapus airmataku, selalu tertawa untuk menghiburku. Inilah kami, selalu ada; selalu setia.

Kamis, 11 Oktober 2012

Hujan Pengantar Rindu


Hujan rintik-rintik memberi nuansa dingin di kampusku. Membasuh jiwa-jiwa yang kekeringan. Langit kelabu itu bagaikan sebuah isyarat...


Meskipun kelas telah selesai sejak satu jam yang lalu, aku sama sekali tak berniat untuk pulang ke rumah. Duduk di payung selasar Gedung I merupakan ritual yang selalu kulakukan setiap selesai kelas.
Aku mengambil sesuatu dari tas ranselku. Sebuah scrap book berwarna biru muda buatanku yang sudah tampak usang.

Kubuka halaman pertama...
Sebuah foto seorang wanita berjilbab bersama lelaki berambut ikal di sampingnya. Wajah mereka terlihat sangat bahagia.

Kubuka halaman kedua...
Sebuah tulisan tangan yang indah. Bertuliskan inisial huruf: "A&D"

Kubuka halaman ketiga...
Mataku terpaku di sana. Pada deretan aksara yang menerbangkanku masuk ke dalam tulisan itu... Di sana tertulis betapa bahagianya si 'aku' ketika bertemu pertama kali dengan si 'dia'. Si 'dia' yang mampu membuat si 'aku' tertidur dengan wajah tersenyum sampai pagi.

Kubuka halaman keempat, kelima, dan seterusnya...
Tiba-tiba aku merasa diselimuti sesuatu. Suatu perasaan dingin yang menyebabkan sekujur tubuhku menggigil kedinginan. Rupanya aku diselimuti rindu yang teramat dalam... Padamu.

Setetes. Dua tetes...
Bukan air hujan.
Itulah yang biasa kau sebut dengan;
Airmata.


Dari 'A', untuk 'D'

Senin, 08 Oktober 2012

A place in your heart


“Matkul gak penting! Cabut aja deh gue!” ucapku pada Tata, sahabatku.
“Serius lo? Dosennya kan…”
“Halaaah, jatah absen gue masih ready stock kok!” aku berjalan cepat meninggalkan ruang kelas.

Keluar dari gedung VI, aku disambut dengan pemandangan mahasiswa-mahasiswa BIPA yang sedang asyik mengobrol, minum, bahkan merokok. Di antara mereka, aku melihat Seo Hyun—kenalanku di salah satu kelas—sedang melambaikan tangan ke arahku.

“Halo, Dara… Mau rokok?” dengan bahasa Indonesia yang belum terlalu lancar, ia menyodorkan sebatang rokok padaku.
“Terima kasih.” Jawabku sambil mengambil rokok itu dan menyimpannya di saku jaketku.
“Kamu cha-but ya pasti?” tanyanya.
Keningku mengkerut. Cha-but? Cabut? Astaga!
Aku menganggukkan kepala sambil terbahak-bahak.

Kami mengobrol tentang banyak hal. Dan tentu saja semua itu kulakukan hanya untuk membuang-buang waktu. Karena sebenarnya, aku sama sekali tidak berminat untuk berteman dengan lelaki bermata sipit ini. Tidak-sama-sekali.
Pasti Seo Hyun juga tidak benar-benar tulus berteman denganku.
Aku tidak peduli, karena semua laki-laki itu sama. Mereka ingin berteman denganku hanya karena wajahku yang keturunan Chinesse ini. Kebanyakan teman perempuanku berkata bahwa wajahku tidak sesuai dengan kepribadianku yang maskulin. Mereka malah ingin menukar wajahnya dengan wajahku. Ini gila.

“Gue balik ya. Thanks for the cigarette.” Ucapku sambil meninggalkan Soe Hyun, tanpa menunggu jawaban darinya.

Sambil menikmati semilir angin sore yang menerpa rambutku, lagu Michael Jackson - Heal The World, mengalun di telingaku.

There's a place in your heart
And I know that it is love
And this place could be much
Brighter than tomorrow.
And if you really try
You'll find there's no need to cry
In this place you'll feel
There's no hurt or sorrow.
There are ways to get there
If you care enough for the living…

Aku membakar rokok pemberian Seo Hyun. Apalah arti hidup damai? Batinku bertanya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia sepuluh tahun menarik perhatianku. Ia mengais sampah di sekitar Klaster, dan menemukan puntung rokok yang tinggal separuh. Tangannya bergerak cepat merogoh ke dalam saku celananya, mengambil korek api, membakarnya, dan kemudian dihirup dalam-dalam.



Lututku bergetar…

Bukankah anak sekecil itu harusnya tidak boleh menyentuh rokok? Apalagi… Merokok?

Beberapa detik kemudian, aku melemparkan benda yang mengapit di antara jari telunjuk dan jari tengahku itu ke danau di bawah jembatan Teksas. Membiarkannya bergabung bersama milyaran bakteri yang ada di dalam sana. Perasaan tak menentu meresap ke dalam jiwaku. Mengisi suatu tempat di dalam ragaku, bernama hati.

Sejak hari itu... Aku tak lagi mampu menyentuh sebatang rokok pun. 

Jumat, 05 Oktober 2012

Sebuah penantian


Selamat malam, harapanku. Yang masih tersimpan rapi dalam benakku. Tak pernah lagi aku usik kehadiranmu meski semua terasa semu.
Bulan itu meledekku. Ia bilang, kau tak akan kembali lagi ke sini. Aku marah padanya. Kututup jendela kamarku agar ia berhenti meledekku. Kau pasti kembali kan?

-

Selamat pagi, bidadariku. Satu tahun sudah kita tak bertemu. Tak adakah puing-puing rindu yang tersisa untukku? Padahal rinduku disini sudah menggunung dan membatu. Untung, pagi ini matahari tak mengejekku. Aku masih mampu tersenyum menghadapi dunia. Karena aku tahu, kau di sana juga merindukanku, kan?

-

Selamat malam, bintangku. Mengapa kau tampak banyak sekali muncul di langit malam ini? Aku tak mampu lagi membedakanmu dengan cahaya dari pesawat terbang yang kebetulan melintas. Semakin hari, kau semakin sulit kutemukan…

-

Selamat pagi, penantianku. Ini ulang tahunku yang ke-40. Tidakkah kau mengucapkannya padaku? Padahal aku terbangun tengah malam hanya untuk berharap bahwa handphone-ku menerima pesan ucapan darimu. Ah, tak apa. Mungkin kau sibuk. Selamat ulang tahun, aku.

-

Selamat malam, kamu. Malam ini aku sedang memeluk erat selembar koran. Terbitan dua puluh tahun yang lalu. Di sana tercetak jelas deretan huruf yang membuatku tetap bertahan selama ini.

“SEBUAH PESAWAT JATUH DI GUNUNG SALAK. Korban belum teridentifikasi...”